Oleh : Rusyda Musyaffa ‘Adiilah – Diklat XXII
Halo, Cattlebuffalove!
Saat ini, populasi manusia di dunia mencapai hampir 8 miliar jiwa. Pertumbuhan populasi yang pesat ini menimbulkan tantangan besar dalam penyediaan pangan, terutama dalam memenuhi kebutuhan protein hewani yang penting untuk keberlangsungan hidup. Ketersediaan pasokan makanan protein hewani tidak sebanding dengan peningkatan jumlah manusia, yang berpotensi menyebabkan masalah kelaparan di tahun-tahun mendatang.
Upaya Ilmuwan dalam Memecahkan Masalah Kekurangan Pangan
Para ilmuwan di seluruh dunia terus berupaya mencari solusi untuk mengatasi masalah
kekurangan pasokan makanan. Salah satu terobosan penting adalah penemuan “daging buatan”
oleh Jon Vein pada tahun 1998. Daging buatan, atau yang juga dikenal sebagai daging in vitro,
dikembangkan dari sel punca yang masih hidup dan dikultur dalam lingkungan laboratorium.
Proses ini menghasilkan daging dengan bentuk, tekstur, aroma, dan komposisi yang sama
persis dengan daging konvensional.
Proses Produksi dan Keunggulan Daging Buatan
Proses produksi daging buatan dianggap lebih ramah lingkungan karena membutuhkan
lebih sedikit lahan dan air dibandingkan dengan peternakan tradisional. Hal ini menjadikannya
sebagai solusi potensial untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri peternakan, yang
dikenal memerlukan sumber daya alam yang besar dan menghasilkan emisi gas rumah kaca
yang signifikan.
Dampak Daging Buatan terhadap Peternak
Meskipun daging buatan menawarkan banyak keuntungan, dampaknya terhadap peternak masih belum dapat dipastikan sepenuhnya karena teknologi ini masih dalam tahap pengembangan. Teknologi ini, meskipun menjanjikan, belum mencapai titik di mana dampak jangka panjangnya bisa dianalisis secara menyeluruh. Salah satu potensi dampak negatif adalah penurunan permintaan terhadap daging konvensional. Jika konsumen mulai beralih ke daging buatan secara signifikan, ini dapat menyebabkan penurunan pendapatan bagi para peternak. Pendapatan yang menurun ini bisa berdampak pada keberlangsungan usaha peternakan kecil dan menengah, yang sangat bergantung pada penjualan daging konvensional.
Selain itu, dampak lainnya adalah kemungkinan kehilangan pekerjaan di sektor peternakan. Dengan menurunnya permintaan daging konvensional, kebutuhan akan tenaga kerja di bidang ini juga bisa berkurang. Hal ini dapat menambah tingkat pengangguran di daerah-daerah yang ekonominya bergantung pada peternakan. Persaingan yang lebih tinggi antara daging buatan dan daging konvensional juga bisa terjadi. Daging buatan, dengan segala keunggulan teknologinya, bisa menarik perhatian konsumen yang peduli pada isu-isu lingkungan dan kesehatan, sehingga menambah tekanan pada industri peternakan konvensional untuk beradaptasi atau menghadapi penurunan pangsa pasar.
Faktor Penentu Dampak Sosial Ekonomi
Dampak sosial ekonomi dari daging buatan dipengaruhi oleh beberapa faktor penting,
termasuk harga daging buatan dibandingkan dengan daging konvensional, penerimaan
konsumen terhadap produk daging buatan, dan kebijakan pemerintah dalam mendukung
peternak serta meminimalkan dampak negatif. Penting bagi pemerintah dan pemangku
kepentingan lainnya untuk bekerja sama dalam mengembangkan kebijakan yang adil dan
mendukung transisi yang berkelanjutan dalam industri pangan.
Dengan populasi dunia yang terus bertambah, kebutuhan akan inovasi dalam
penyediaan pangan menjadi semakin mendesak. Daging buatan menawarkan solusi potensial
untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dengan cara yang lebih berkelanjutan. Namun,
penting untuk mempertimbangkan dampak sosial ekonomi yang mungkin timbul dan
mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa semua pihak dapat beradaptasi dengan
perubahan ini secara adil dan berkelanjutan.
References :
Bonny, S. P., Gardner, G. E., Pethick, D. W., & Hocquette, J. (2015). What is artificial meat
and what does it mean for the future of the . Journal of Integrative Agriculture, 14(2),
255-263.
Hasibuan, T. U., & Muslim, A. (2022). Inovasi Industri Daging Buatan dalam Perspektif Fiqh
Syafi’i. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner, 7(1), 87-108.
Irwan, K. (2020). Masa Depan Daging Buatan, Ini Kata Pakar Peternakan IPB. Retrieved
from REPUBLIKA: https://news.republika.co.id/berita/qkztoo374/masa-depandaging-buatan-ini-kata-pakar-peternakan-ipb
Mark, J. (2012). Cultured meat from stem cells: Challenges and prospects. Meat Science, 297-
301.