Halo Cattlebuffalove,

Penyebaran penyakit antraks dari hewan ternak ke manusia merupakan fenomena serius yang terjadi di Indonesia. Antraks adalah penyakit zoonosis yang umumnya menyerang hewan ternak seperti sapi, domba, dan kambing. Namun, manusia juga rentan terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau produk yang berasal dari hewan tersebut, seperti daging atau kulit. Di Indonesia, kasus penyebaran antraks dari hewan ternak ke manusia telah terjadi dan menjadi perhatian serius bagi kesehatan masyarakat.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri antraks (Bacillus anthracis). Bakteri ini dapat membentuk spora yang tahan terhadap perubahan lingkungan dan dapat bertahan hidup selama 60 tahun didalam tanah, sehingga  sulit untuk dimusnahkan. Sumber penularan antraks pada manusia biasanya akibat dari kontak dengan produk atau kontak dengan hewan pemamah biak dan herbivora lainnya seperti sapi, kerbau, kambing dan domba yang terinfeksi bakteri antraks. Manusia juga dapat tertular anthraks melalui kontak hewan terinfeksi atau menghirup spora anthraks. Spora ini tahan terhadap kondisi lingkungan yang panas, desinfektan dan bahan kimia, sehingga dapat bertahan di lingkungan hingga puluhan tahun. Sebagian besar kasus antraks pada manusia merupakan antraks tipe kulit akibat kontak langsung dengan hewan atau produk hewan yang sakit/mati karena antraks. Beberapa penderita antraks yang meninggal merupakan antraks tipe pencernaan akibat memakan daging hewan terinfeksi bakteri antraks yang tidak dimasak secara sempurna.

Bacillus anthracis merupakan bakteri yang pertama kali dapat dilihat dan dibuktikan sebagai penyebab penyakit. Pada tahun 1877, Robert Koch menanam organisme dalam media pembiakan dan memperlihatkan kemampuan bakteri untuk membentuk endospore dan dalam percobaannya ia dapat menimbulkan penyakit antraks pada binatang tersebut. Pada hewan yang terinfeksi kuman antraks dan pada saat kondisi hampir mati, banyak terdapat kuman antraks di dalam tubuhnya. Bakteri masih dalam bentuk vegetatif yang akan dikeluarkan dari tubuh melalui lubang kumlah yaitu cairan eksudat hemoragis yang akan mencemari tanah dan air di sekitarnya kemudian akan membentuk spora dan  menetap di lingkungan tersebut.

Bila hewan mati dengan penyakit antraks berada pada suhu berkisar 28-30ºC, maka bakteri antraks akan mati dalam waktu 3-4 hari, tetapi bila suhunya berkisar 5-10ºC dan tidak terjadi pembusukan, maka bakteri antraks masih dapat hidup selama 3-4 minggu. Bila bakteri antraks keluar dari bangkai hewan dan suhu lingkungan di atas 20°C dengan kelembaban tinggi, maka bakteri tersebut cepat berubah menjadi spora dan akan hidup sampai puluhan tahun (Christie 1983). Bakteri antraks dapat dimatikan dengan cara merebusnya selama 10 menit, atau dengan pemberian bahan oksidan seperti Kalium Permanganat atau dengan Hidrogen Peroksida atau dengan larutan Formaldehid. Selain itu bacillus anthracis peka terhadap desinfektan, antiseptik  serta antibiotika.

Penularan pada manusia dapat terjadi bila hewan atau manusia terpapar dengan cairan tubuh yang mengandung bakteri antraks atau oleh spora yang ada disekelilingnya. Kondisi tanah dengan keasaman netral atau tanah berkapur alkalis dapat menyebabkan bakteri antraks berkembang biak dan membentuk spora dalam jumlah  yang lebih banyak. Penularan melalui spora diawali dengan Bakteri antraks yang akan dikeluarkan dari tubuh hewan melalui sekresi dan ekskresi selama sakit atau menjelang kematiannya. Bila hewan tersebut mati di ladang maka spora yang keluar melalui lubang-lubang kumlah spora dengan cepat akan terbentuk dan mencemari tanah atau obyek lain di sekitarnya. Bila sudah terjadi hal demikian maka sulit untuk memusnahkan spora yang  sudah terlanjur terbentuk sehingga tersebar mencemari lingkugan. Spora antraks juga ikut terbongkar pada saat petani melakukan pengolahan tanah dan selanjutnya terbawa oleh aliran air di musim hujan atau terbawa oleh limbah cair ke tempat lain. Spora di permukaan Tanah juga dapat terkikis oleh gerusan aliran air hujan  ke parit di sekitar lokasi dan terbawa ke tempat yang cukup jauh.

Bagi peternak, penting untuk mengetahui beberapa penyebaran penyakit antraks agar tidak menyebar pada ternak. Rumput yang dipangkas untuk pakan ternak sangat berpotensi membawa spora dan berisiko menularkan antraks dari satu daerah ke daerah lainnya. Selain itu juga akibat dari hewan ternak yang digembalakan di daerah tercemar spora antraks, dan merumput sampai pangkal batang yang berdekatan dengan tanah pada saat mulai musim penghujan dimana rumput masih pendek. Penularan pun bisa melalui konsentrat atau bahan pakan dari hewan. Penularan melalui konsentrat protein yang terkontaminasi oleh spora antraks ini pernah terjadi di Inggris dan Amerika Serikat. Indonesia telah melarang pemberian tepung tulang kepada ruminansia untuk menghindari penularan antraks dan sapi gila (BSE).

Meskipun belum pernah diteliti di Indonesia, lalat dianggap mempunyai peran penting dalam menyebarkan antraks secara mekanis terutama pada situasi wabah hebat di daerah endemis. Kebanyakan lalat pengigit (biting flies) dari spesies Hippobosca dan Tabanus bertindak sebagai penular yang bertanggung jawab terhadap terjadinya perluasan wabah besar di Zimbabwe pada 1978-1979, dimana lalat meloncat dari satu komunitas ternak ke komunitas lainnya. Lalat juga memakan cairan tubuh bangkai ternak terjangkit anthrax dan kemudian mendepositkan feses atau muntahan yang mengandung kontaminan bakteri antraks dalam jumlah besar pada helai daun pepohonan dan semak-semak di sekitarnya. Penularan pada manusia melalui di Gambia dan Glasgow pernah dilaporkan penyebaran antraks akibat penggunaan alat toilet secara bersama, misalnya sikat gigi. Penyebaran seperti ini juga pernah dilaporkan oleh Elkin 1961 di Inggris dan Rusia serta Amidi 1974 di Iran (dikutip oleh Heyworth 1975).

Hewan terinfeksi kuman antraks dapat bersifat per-akut, akut dan kronis. Gejala klinis pada perjalanan penyakit yang bersifat per-akut kadang-kadang tidak sempat kelihatan karena kematiannya sangat mendadak. Gejala klinis yang bersifat akut biasanya ditandai dengan kenaikan suhu badan, gelisah, depresi, sesak nafas, detak jantung lemah tapi frekuen, kejang kemudian diikuti dengan kematian. Sebelum terjadi kematian dari lubang kumlah penderita keluar cairan

(ekskreta) berdarah bersifat encer berwarna kehitaman.

Terdapat tiga bentuk utama antraks pada manusia, yaitu antraks kulit, antraks paru-paru, dan antraks meningitis. Pada antraks kulit, tanda-tandanya umumnya muncul dalam waktu 1-7 hari setelah terpapar spora Bacillus anthracis. Gejala awalnya berupa munculnya lesi yang berubah menjadi luka terbuka, terkadang dengan pus yang keluar. Lesi tersebut biasanya berbentuk seperti bisul dan bisa sangat gatal atau nyeri. Lesi ini dapat terjadi di daerah tubuh yang terpapar langsung oleh spora, seperti kulit, tangan, atau wajah. Tanda-tanda lain yang mungkin muncul meliputi demam, kelelahan, sakit kepala, dan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar lesi. (Sumber: CDC, 2019)

Antraks paru-paru adalah bentuk antraks yang lebih jarang terjadi, tetapi memiliki tingkat kematian yang tinggi. Tanda-tandanya seringkali mirip dengan gejala flu biasa pada awalnya, termasuk demam, batuk, sakit tenggorokan, dan nyeri otot. Namun, dalam beberapa hari, gejala ini dapat memburuk dengan munculnya sesak napas, sakit dada, dan pembengkakan kelenjar getah bening di daerah leher. Antraks paru-paru dapat berkembang menjadi penyakit yang parah dan mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. (Sumber: Mayo Clinic, 2021)

Antraks meningitis merupakan bentuk antraks yang paling langka namun paling berbahaya. Tanda-tanda awalnya mirip dengan gejala infeksi pada sistem saraf pusat, termasuk demam tinggi, sakit kepala hebat, mual, muntah, kebingungan, dan kejang. Infeksi pada otak dan sistem saraf pusat dapat menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa dan memerlukan perawatan medis segera. (Sumber: Medscape, 2022)

Upaya penanggulangan dan pencegahan penularan penyakit antraks dari ternak ke manusia merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan masyarakat. Beberapa strategi telah diimplementasikan untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit ini.

Pertama, vaksinasi hewan ternak menjadi salah satu upaya yang efektif dalam pencegahan antraks. Vaksinasi yang terjadwal dan rutin pada hewan ternak dapat mengurangi insiden penyakit serta membatasi penyebaran spora Bacillus anthracis ke manusia. Program vaksinasi yang intensif, terutama pada hewan yang berisiko tinggi, seperti sapi, domba, dan kambing, telah terbukti efektif dalam mengendalikan wabah antraks. (Sumber: World Health Organization, 2019)

Selain vaksinasi, pengawasan ketat terhadap perdagangan hewan ternak juga menjadi langkah penting dalam pencegahan penularan antraks. Pemerintah perlu mengatur dan mengawasi transportasi serta perdagangan hewan ternak dengan ketat. Langkah-langkah seperti pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah transportasi, pengawasan karantina, serta pembatasan pergerakan hewan dari daerah yang terinfeksi dapat membantu mengendalikan penyebaran penyakit ini. (Sumber: Kementerian Pertanian RI, 2022)

Peningkatan kesadaran peternak juga menjadi faktor kunci dalam pencegahan antraks. Edukasi dan penyuluhan kepada peternak tentang tanda-tanda antraks, cara penularan, serta langkah-langkah pencegahan yang perlu diambil sangat penting. Peternak perlu dilibatkan dalam program pengawasan dan penanggulangan antraks, termasuk melaporkan secara aktif jika terdapat kejadian penyakit pada hewan ternak mereka.

Upaya penanggulangan dan pencegahan penularan penyakit antraks juga harus memperhatikan proses pengolahan bahan makanan hasil ternak yang tidak tepat. Pengolahan bahan makanan yang tidak tepat dapat menjadi sumber penularan spora Bacillus anthracis ke manusia.

Pertama, kebersihan dan sanitasi dalam proses pengolahan makanan sangat penting. Menjaga kebersihan area pengolahan makanan, peralatan, dan tangan merupakan langkah awal yang harus diambil. Peternak dan pekerja dalam industri makanan harus mengikuti praktik sanitasi yang baik, termasuk mencuci tangan secara menyeluruh sebelum dan sesudah menangani bahan makanan, serta membersihkan dan mendisinfeksi peralatan dengan benar. (Sumber: Centers for Disease Control and Prevention, 2022)

Selain itu, penting juga untuk memastikan bahan makanan yang digunakan berasal dari sumber yang terpercaya dan sehat. Memperoleh bahan makanan dari peternakan yang telah menjalani program vaksinasi dan pengawasan kesehatan hewan yang baik dapat mengurangi risiko kontaminasi dengan spora Bacillus anthracis. Peternak dan produsen makanan juga perlu mengikuti pedoman keamanan pangan yang ditetapkan oleh otoritas kesehatan setempat. (Sumber: Food and Agriculture Organization, 2011)

Selanjutnya, penting untuk menjaga kebersihan dan keamanan selama proses pengolahan makanan, termasuk pengolahan daging dan produk hasil ternak. Memastikan daging dan produk hasil ternak dimasak dengan suhu yang tepat adalah langkah penting untuk membunuh spora Bacillus anthracis yang mungkin ada. Memasak daging pada suhu minimal 70 derajat Celsius (160 derajat Fahrenheit) dapat membunuh bakteri penyebab antraks. Selain itu, menyimpan makanan pada suhu yang aman dan memperhatikan tanggal kedaluwarsa juga penting untuk menghindari risiko kontaminasi. (Sumber: U.S. Department of Agriculture, 2019)

Pengetahuan dan kesadaran masyarakat juga harus ditingkatkan dalam hal pengolahan makanan yang aman. Edukasi kepada masyarakat tentang cara memilih, menyimpan, dan mengolah makanan dengan benar akan membantu mengurangi risiko penularan antraks melalui makanan. Informasi yang jelas dan mudah dipahami tentang bahaya antraks dan langkah-langkah pencegahannya harus disosialisasikan secara luas. (Sumber: World Health Organization, 2019)

Sumber :

Centers for Disease Control and Prevention.(2022). Anthrax – Prevention. Diakses pada 5 Juli 2023, dari https://www.cdc.gov/anthrax/basics/prevention.html

Food and Agriculture Organization. (2011). Good practices for the meat industry. Diakses pada 5 Juli 2023, dari http://www.fao.org/3/t0566e/t0566e00.htm

U.S. Department of Agriculture. (2019). Food Safety Basics – Safe Minimum Cooking Temperatures. Diakses pada 5 Juli 2023, dari https://www.fsis.usda.gov/food-safety/safe-food-handling-and-preparation/food-safety-basics/safe-minimum-cooking-temperatures

World Health Organization. (2019). Anthrax in Humans and Animals. Geneva.

CDC. (2019). Anthrax – Signs and Symptoms. Diakses pada 5 Juli 2023, dari https://www.cdc.gov/anthrax/basics/symptoms.html

Mayo Clinic. (2021). Anthrax – Symptoms and Causes. Diakses pada 5 Juli 2023, dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anthrax/symptoms-causes/syc-20356229

Medscape. (2022). Anthrax Clinical Presentation. Diakses pada 5 Juli 2023, dari https://emedicine.medscape.com/article/212127-clinical

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »