Halo, Cattlebuffalove!

Dalam industri peternakan, kotoran hewan secara historis menjadi masalah yang signifikan. Kotoran ternak adalah masalah yang serius, karena mayoritas peternak membuang langsung di sungai terdekat atau dibiarkan menjadi sampah di sekitar kandang. Kotoran hewan ternak yang tanpa pengawasan dibuang dalam arus sungai atau dibiarkan akan berbau tidak sedap dan dapat menyebabkan masalah di masyarakat. Pembuangan yang tidak terkendali dapat mengakibatkan pelepasan metana ke lingkungan atau gas rumah kaca (GRK) yang kuat. Limbah peternakan menyumbangkan gas metana (CH4) sebesar 12%-41% dari total sektor pertanian (Chadwick dkk. 2011). Oleh karena itu, jika pembuangan limbah peternakan dapat dikurangi dengan pengalihan dan pengolahan dengan langkah-langkah emisi yang lebih rendah akan memungkinkan untuk mengurangi jumlah emisi metana penyebab pemanasan global dan perubahan iklim secara signifikan .

Salah satu opsi pengolahan limbah peternakan yang lebih inovatif, di mana limbah diumpankan ke larva serangga, larva serangga yang digunakan adalah maggot. Maggot yang dikenal dengan sebutan belatung merupakan larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens dalam bahasa Latin. Keuntungan dari pengolahan limbah menggunakan maggot yaitu saat maggot dipanen dapat digunakan sebagai pakan ternak. Ketersediaan pakan ternak konvensional, seperti tepung kedelai atau tepung ikan, semakin terbatas dan mahal, atau terkait dengan kebutuhan lahan dan air yang tinggi.(Makkar dkk., 2014; Smetana dkk., 2016). Penggunaan limbah peternakan sebagai substrat untuk pemeliharaan serangga sebagai sumber protein dalam pakan ternak dianggap sebagai alternatif yang sangat menjanjikan (Salomon dkk., 2017)

Setelah pengenalan pertama untuk pengolahan limbah pada 1990-an, Black Soldier Fly (BSF), semakin menarik (Makkar dkk., 2014; Smetana dkk., 2016; Surendra dkk., 2016) sebagai cara yang efisien untuk mengubah limbah peternakan menjadi biomassa kaya protein dan lemak yang cocok untuk pakan ternak. Pendekatannya adalah dengan memberi makan larva lalat dengan kotoran ternak. Hal ini mengurangi jumlah limbah hingga 50–80% (berat basah) menjadi residu dan dapat menumbuhkan larva yang dapat dipanen setelah sekitar 14 hari dengan tingkat konversi limbah menjadi biomassa hingga 20% (pada basis total padat) (Lohri dkk., 2017). Larva dapat diolah lebih lanjut dan digunakan sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan ternak konvensional (Henry dkk., 2015) dan residu dapat dikomposkan dan digunakan sebagai pembenah tanah (Diener et al., 2009).

Sumber:

Mertenat, A., Diener, S., & Zurbrügg, C. (2019). Black Soldier Fly biowaste treatment–Assessment of global warming potential. Waste management84, 173-174

Syaikhullah, G., Awaludin, A., & Adhyatma, M. (2021, November). IMPLEMENTASI BUDIDAYA BLACK SOLDIER FLY (BSF) SEBAGAI SUMBER PAKAN ALTERNATIVE DAN INSTRUMEN ZERO WASTE SYSTEM SERTA BIOSECURITY DI KELOMPOK TERNAK JOYO SEDOYO FARM. In Prosiding Seminar Nasional Terapan Riset Inovatif (SENTRINOV) (Vol. 7, No. 3, pp. 332-334)..

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »