Halo, Cattlebuffalove!

PMK atau dikenal juga sebagai Foot and Mouth Disease adalah penyakit hewan menular bersifat akut yang disebabkan oleh virus. Berdasarkan data portal resmi Kabupaten Bogor, penyakit PMK dapat menyebar dengan sangat cepat mengikuti arus transportasi daging dan ternak terinfeksi serta dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar akibat penurunan berat badan permanen. Penyakit ini sulit dikendalikan dan kompleks karena membutuhkan biaya vaksinasi yang sangat besar serta pengawasan lalu lintas hewan yang ketat. Negara Indonesia terdiri dari puluhan ribu pulau dan ratusan pelabuhan besar maupun kecil, sehingga rawan penyelundupan ternak dan bahan asal hewan dari negara endemis PMK seperti India, Brazil, Malaysia, Thailand, Filipina, dan sekitarnya.

            PMK disebabkan oleh virus tipe A dari family Picornaviridae, genus Apthovirus dengan masa inkubasi 2-14 hari (sejak hewan tertular penyakit sampai timbul gejala penyakit). Penyakit ini dapat menyerang hewan dengan kuku belah seperti sapi, kerbau, unta, gajah, rusa, kambing, domba dan babi dengan cara penularan seperti; (1) Kontak langung maupun tidak langsung dengan hewan penderita (droplet, leleran hidung, serpiham kulit). (2) Vektor hidup yang terbawa oleh manusia ataupun dari bukan vector hidup seperti alat transportasi, menyebar lewat angin melalui darat dan laut.

            Lalu apakah kerbau akan terkena dampak sedemikian rupa seperti halnya sapi? Dikutip dari Kompas oleh Mozes Fakultas Kedokteran Hewan IPB, sebelum menjawab pertanyaan tersebut kita harus tau mengenai asal usul penyebaran kerbau. Kerbau (Bubalus bubalis) berasal dari arni (Bubalus arnae), semacam kerbau liar yang hidup di rawa-rawa dan hutan berumput di India. Domestifikasinya diperkirakan bermula pada 4000 tahun yang lampau dan akhirnya berkembang menjadi kerbau perah dan kerbau lumpur. Menurut FAO, diseluruh dunia terdapat 120 juta ekor kerbau yang 96,7% daripadanya berada di Asia. Kerbau perah berdomisili di wilayah yang terbentang dari India sampai ke Eropa Tenggara dan Mesir, sedangkan kerbau lumpur terdapat di Kawasan Asia Tenggara.

            Jelas bahwa kerbau hanya terdapat di daerah tropis dan subtropis yang lembab atau sangat lembab. Salah satu keuntungan yang dimiliki oleh ternak kerbau ialah umumnya lebih tahan terhadap penyakit daripada sapi. Kecuali Septicemia haemorrhagica (penyakit ngorok) Anthrax (radang limpa) dan Surra (penyakit tujuh keliling), sedangkan penyakit-penyakit lain yang sering menyerang sapi tidak atau jarang ditemukan pada kerbau. Blumenhein (1971), sarjana Jerman yang mempelajari pustaka penyakit kerbau, menyatakan bahwa kerbau memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap kebanyakan penyakit daripada sapi.

            Dari data yang telah dipaparkan, PMK tetap bisa menjangkit kerbau meskipun dikatakan lebih tahan dari serangan penyakit. Oleh karena itu, dibutuhkan pencegahan seperti menerapkan biosekuriti (disinfektan) terhadap kerbau dan melakukan vaksinasi. Setelahnya pengobatan dan pengendalian yang bisa kita lakukan antara lain; (1) Pemotongan dan pembuangan jaringan tubuh hewan yang terinfeksi. (2) Kaki yang terinfeksi di terapi dengan chloramphenicol atau bisa juga diberikan larutan cupri sulfat. (3) Injeksi intravena preparat sulfadimidine juga disinyalir efektif terhadap PMK. (4) Selama dilakukan pengobatan, hewan yang terserang penyakit harus dipisahkan dari hewan yang sehat. (5) Hewan tidak terinfeksi harus ditempatkan pada lokasi yang kering dan dibiarkan bebas jalan-jalan serta diberi pakan cukup untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. (6) Pada kaki hewan ternak yang sehat diolesi larutan cupri sulfat 5% setiap hari selama satu minggu, kemudian setelah itu terapi dilakukan seminggu sekali sebagai cara yang efektif untuk pencegahan PMK pada ternak.

Sumber:

Ardianto, W., Anggraeni, W., & Mukhlason, A. (2012). Pembuatan Sistem Pakar Untuk Pendeteksian dan Penanganan Dini Pada Penyakit Sapi. JURNAL TEKNIK ITS, A310-A312.

Bogor, K. (2022, September 11). Portal Resmi Kabupaten Bogor. Retrieved from bogorkab: https://bogorkab.go.id/post/detail/mengenalbahaya- penyakit-mulut-dan-kuku.


Listiana, N. “Penerapan algoritma rough set untuk deteksi dan penanganan dini penyakit sapi”. Surabaya: Tugas Akhir Jurusan Sistem Informasi FTif (2011).

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »