Halo, Cattlebuffalove!

Indonesia merupakan salah satu penghasil susu sapi perah di dunia. Menurut Badan Pusat Statistik, produksi susu sapi perah cenderung naik dari tahun ke tahun dengan rataan produksi 170.988,6 liter/tahun pada periode 2016-2020. Pasokan susu lokal berasal dari Susu Segar Dalam Negeri (SSDN), sisanya diimpor dalam bentuk skim milk, whole milk, anhydrous milk fat, buttermilk, dan whey.

Industri susu nasional masih menghadapi tantangan pada pemenuhan bahan baku. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pasokan bahan baku industri susu, masih tertinggal jauh dibanding pertumbuhan permintaan dari industri. Industri susu nasional masih belum mampu memenuhi permintaan susu untuk pemenuhan bahan baku. “Dalam periode lima tahun terakhir, pasokan Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) tumbuh rata-rata 0,9% per tahun, sedangkan kebutuhan industrinya tumbuh hingga 6% per tahun,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada Bimbingan Teknis Transformasi 4.0 untuk Koperasi dan Tempat Penerimaan Susu (TPS), Jakarta, Selasa (5/4).

Hingga saat ini, SSDN hanya dapat memenuhi sekitar 0,87 juta ton atau 21% kebutuhan dalam negeri. Sedangkan bahan baku lainnya masih didatangkan dari luar negeri, di antaranya dalam bentuk skim milk, whole milk, anhydrous milk fat, buttermilk, dan whey. Berdasarkan catatan kemenperin, sebagian besar produksi SSDN berasal dari Pulau Jawa, terutama Jawa Timur yaitu sebesar 534 ribu ton (56% dari total produksi SSDN), Jawa Barat sebesar 293 ribu ton (31%), dan Jawa Tengah sebesar 100 ribu ton (11%). Ketiga provinsi tersebut menyumbang produksi susu segar dengan total 98% dari produksi susu segar nasional.

Diketahui saat ini transaksi yang terjadi antara para peternak dengan industri pengolahan susu (IPS) di tempat penerimaan susu (TPS) atau koperasi, pada umumnya dilakukan secara manual atau konvensional. Sehingga salah satu gerakan yang dilakukan kemenperin untuk mengatasi masalah ini ialah dengan memacu industri pengolahan susu melakukan rintisan pembinaan dalam penerapan transformasi digital di tempat penerimaan susu. Penerimaan susu secara konvensional/tradisional dapat menyebabkan harga pembelian susu menjadi tidak maksimal atau bahkan kualitas susu yang disetor tidak memenuhi standar yang ditetapkan oleh industri pengolahan susu. Transformasi digital pada tempat penerimaan susu dipercaya dapat meningkatkan kualitas dan standar susu yang diterima.

Beberapa IPS melakukan rintisan pembinaan dalam penerapan transformasi digital di TPS-TPS dan menghubungkannya dengan koperasi terkait. Kooperasi yang terhubung antara lain Koperasi SAE Pujon Malang (binaan PT Nestle) dan TPS-TPS di bawah KPBS Pangalengan (binaan PT Frisian Flag Indonesia). Kementerian Perindustrian mengapresiasi pelaku industri pengolahan susu di tanah air yang berkomitmen untuk memperkuat kemitraan dengan koperasi dan peternak sapi perah lokal. Terutama demi menjaga pasokan bahan baku yang terintegrasi, sehingga bisa meningkatkan produktivitas dan kualitas susu segar dalam negeri (SSDN).

Sumber:

www.validnews.com

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »