Halo Cattlebuffalove!

Sektor peternakan di Indonesia pada beberapa dekade terakhir sudah berfokus pada pembangunan untuk memenuhi pangan dan juga pada isu kesehatan dan lingkungan. Akan tetapi, peternakan yang ada di Indonesia di dominasi oleh peternakan rakyat yang masih menggunakan sistem konvensional dan sederhana. Oleh karena itu, peternakan di Indonesia masih kurang memperhatikan pada limbah hasil peternakan yang dapat berdampak bagi lingkungan.

Permasalahan utama dari sektor peternakan adalah limbah ternak yang masih menjadi masalah  yang  serius,  karena  hanya  dibiarkan  menjadi  limbah  disekitar kandang atau pun dibuang langsung ke lingkungan sekitar. Limbah ternak  yang dibiarkan begitu saja akan mengeluarkan bau yang tidak sedap dan berpotensi menjadi masalah sosial. Maka perlu di adakan pengolahan limbah peternakan agar menjaga lingkungan, salah satunya pupuk organik.

Limbah peternakan bisa menjadi potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pengolahan limbah peternakan untuk menjadi pupuk organik bisa menggunakan sistem pengomposan cacing atau vermicomposting. Pengolahan vermicomposting lebih efektif dibandingkan pengolahan limbah yang dibiarkan begitu saja atau proses dekomposisi secara alami. Hal ini akan membantu pengurangan limbah peternakan yang menjadi masalah lingkungan dan masalah sosial.

Vermicomposting adalah proses untuk mengkonversi bahan organik menjadi kompos yang menggunakan bantuan sistem pencernaan dan mikroorganisme dalam usus cacing tanah. Hasil dari vermicomposting adalah vermicompost. Vermicompost  merupakan pupuk organik yang meliputi kotoran cacing (kascing) dan bahan organik terdekomposisi yang kaya akan mikroba fungsional yang bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman. Vermicomposting dapat dijadikan sebagai alternatif pengolahan limbah untuk mengurangi limbah peternakan berupa manur hingga sisa pakan ternak. Cacing  tanah  yang memiliki sifat  utama sebagai  perombak (composer)  mampu  memproses limbah ternak  dalam  jumlah  yang  besar. Cacing tanah terbukti mampu merombak bahan organik yang ada pada kotoran sapi menjadi vermicompost yang kaya unsur hara dengan waktu yang relatif singkat.

Vermicomposting memiliki banyak keuntungan dibandingkan teknologi pengomposan secara konvensional. Keuntungan vermicomposting dibandingkan pengomposan konvensional yaitu dalam hal kualitas kompos yang dihasilkan. Vermicompost lebih kaya unsur nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta beberapa unsur mikro. Selain itu, kompos cacing atau kascing memiliki struktur dan tekstur yang lebih baik, bahkan juga dilaporkan mengandung berbagai enzim dan vitamin yang sangat berguna dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Keunggulan lain vermicompost, meliputi dalam hal kemampuannya mendorong laju penyediaan mineral di tanah lebih cepat, kemampuan dalam hal mengikat logam berat, menekan jumlah mikroba pathogen serta perlindungannya terhadap kesehatan tanaman, serta kemampuannya dalam meningkatkan retensi air, aerasi, drainase dan stabilitas tanah yang lebih baik dibandingkan kompos biasa.

Vermicomposting dapat dilakukan dengan skala besar ataupun skala kecil. Ada dua metode vermicomposting skala besar, metode yang pertama adalah sistem windrow yang dilakukan dalam ukuran tumpukan bedding yang besar. Metode windrow dikembangkan oleh Fletcher Sims Jr., metode ini dapat dilakukan secara massal dan relatif hemat biaya. Metode yang kedua adalah Raised Bed atau Flow -Through System. Sistem ini menggunakan cara denganmembiarkan cacing melakukan pengomposan terlebih dahulu kemudian setelah itu menambahkan limbah disisi selanjutnya sehingga cacing akan berpindah dengan sendirinya. Sistem ini dapat mempermudah untuk memisahkan cacing dari kascing pada saat pemanenan. Oleh sebab itu, sistem ini sangat cocok untuk Vermicomposting di dalam ruangan. Sedangkan untuk skala kecil dilakukan di tempat yang terbatas atau skala rumahan. Tempat yang digunakan bisa berupa kontainer plastik, kotak kayu, atau styrofoam, namun yang paling umum menggunakan plastik polyethylene daur ulang dan polypropylene.

Pengolahan limbah dengan teknik vermicomposting dapat membantu menjaga lingkungan dan mengurangi global warming yang disebabkan oleh efek rumah kaca yang dihasilkan dari gas limbah ternak. Selain itu pengolahan vermicomposting sudah modern sehingga tidak memerlukan waktu yang lama dan memiliki keunggulan yang lebih baik juga dibandingkan pengolahan limbah secara konvensional. Oleh karena itu, pengolahan limbah dengan teknik vermicomposting bisa menjadi solusi untuk para peternak dalam pengolahan limbah untuk menjaga lingkungan dan juga dapat menjadikan sebagai penghasilan tambahan berupa pupuk organik, dan juga membantu dalam mengurangi penggunaan pupuk buatan dan perlahan menggantikannya dengan pupuk organik, salah satunya vermicompost.

Sumber :

Abimanyu D. Nusantara, C. K. (2010). PEMANFAATAN VERMIKOMPOS UNTUK PRODUKSI BIOMASSA LEGUM PENUTUP TANAH DAN INOKULUM FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia, 27.

sastro, Y. (2016). Teknologi Vermikomposting Limbah Organik Kota. Jakarta: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta.

Urip Santoso, J. B. (2020). Pemanfaatan Kotoran Sapi untuk Budidaya Cacing Tanah dan Produksi Vermikompos di WonoharjoGirimulyo Kabupaten Bengkulu Utara. Jurnal Ilmiah Pengembangan dan Penerapan IPTEKS, 120-122.

Tinggalkan Komentar

Translate »