Halo, Cattlebuffalove!

Isu perubahan iklim telah menjadi salah satu perhatian dari seluruh penduduk di dunia saat ini, perubahan iklim telah terjadi dengan masif sehingga dampaknya banyak dirasakan oleh manusia, baru-baru ini ramai diberitakan mengenai pernyataan dari presiden Amerika Serikat Joe Biden yang menyebut kota Jakarta yang akan tenggelam dalam 10 tahun mendatang sebagai akibat dari perubahan iklim yang terjadi saat ini (Ramadhan, 2021). Ada banyak penyebab perubahan iklim saat ini, salah satunya yaitu berasal dari limbah dari sektor peternakan yang menghasilkan gas rumah kaca berupa gas metana (CH4) dalam jumlah yang cukup besar, gas metana ini banyak dihasilkan dari limbah feses dan hasil ekstraksi lainnya dari ternak ruminansia (Ishak dkk., 2019).

Pengolahan limbah ternak di Indonesia saat ini umumnya berupa pengolahan feses secara sederhana dangan mengolah feses sapi menjadi pupuk padat dan pupuk cair, namun masih jarang peternak atau masyarakat yang melakukan pengolahan lebih lanjut untuk menghasilkan biogas. Padahal jika pengolahan biogas dapat dikelola dengan baik dan mampu menghasilkan produk dalam jumlah besar akan mengurangi jumlah limbah peternakan, dan menjadi alternatif dari bahan bakar fosil yang menjadi penyebab utama pemanasan global saat ini, namun nyatanya pengolahan biogas yang digadang-gadang mampu untuk menjadi energi bersih pengganti bahan bakar konvensional masih jauh dari harapan, pada tahun 2019 pemanfaatan biogas hanya mencapai 1,24 persen (Budiman, 2019).

Lalu apa penyebab sulitnya pengembangan biogas di Indonesia? Ada beberapa faktor yang menjadi kendala. Pertama, biaya instalasi pengolahan biogas  yang cukup mahal menyebabkan kebanyakan orang enggan untuk melakukan pengolahan biogas karena memerlukan modal yang cukup besar, meskipun terdapat program pendanaan dari pemerintah melalui kementrian namun syarat yang perlu diajukan cukup rumit dan perlu persetujuan dari kementrian keuangan.

Kedua, jumlah reaktor biogas yang belum mencapai target dan tidak merata di seluruh daerah, menyebabkan pengolahan biogas menjadi tidak maksimal, reaktor yang berada cukup jauh dari daerah peternakan atau berada di wilayah yang hanya memiliki sedikit peternakan akan kesulitan dalam memenuhi bahan baku berupa kotoran ternak yang diperlukan untuk melakukan produksi biogas.

Ketiga kebijakan sentralisasi yang dilakukan pemerintah telah menyulitkan   untuk terjalinnya kerjasama dengan berbagai pihak dalam pengembangan pengolahan biogas, selain itu kebijakan pemerintah yang kurang terarah dan minimnya pengawasan menyebabkan beberapa proyek biogas menjadi kurang maksimal bahkan terbengkalai. Kurangnya sosialisasi mengenai cara pengolahan limbah kotoran ternak menjadi biogas dan keuntungannya juga menyebabkan rendahnya dukungan masyarakat dalam pengembangan pengolahan biogas.

Sebenarnya jika pengolahan biogas dijalankan dengan baik, maka dapat menyelesaikan beberapa masalah sekaligus. Bukan hanya mengatasi dampak negatif dari limbah ternak, tetapi juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca, menambah alternatif energi bersih dan terbarukan serta meningkatkan perekonomian dengan membuka lapangan kerja baru. Untuk mewujudkan hal tersebut tentu dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, sehingga target capaian pemanfaatan biogas mampu memenuhi target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) tahun 2025 (Mulyana, 2020).

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, I. (2019). Setumpuk Kendala Penyebaran Biogas. Diakses pada 20 agustus 2021 [https://wri- indonesia.org/id/blog/setumpuk-kendala-penyebaran-biogas]

Ishak, A. B. L., Takdir, M., & Wardi, W. (2019). Estimasi Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari Sektor Peternakan Tahun 2016 di Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science), 21(1), 51. https://doi.org/10.25077/jpi.21.1.51-58.2019

Mulyana, R. N. (2020). Pemanfaatan masih mini, begini strategi pengembangan biogas untuk bauran energi. Diakses pada 20 agustus 2021  [https://industri.kontan.co.id/news/pemanfaatan- masih-mini-begini-strategi-pengembangan-biogas-untuk-bauran-energi?page=1]

Ramadhan, M. (2021). Joe Biden Sebut Jakarta Bisa Tenggelam 10 Tahun Lagi, Kok Bisa?. Diakses pada 20 agustus 2021  [https://www.kompas.com/tren/read/2021/07/31/123600665/joe- biden-sebut-jakarta-bisa-tenggelam-10-tahun-lagi-kok-bisa?page=all]

Tinggalkan Komentar

Translate »