Hallo Cattlebuffalove!

Isu mengenai pemanasan global menjadi isu penting yang terus mendapat perhatian khusus oleh negara-negara di dunia. Salah satu faktor yang mengakibatkan pemanasan global adalah peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, khususnya gas karbondioksida (CO2). Di Indonesia sektor peternakan mempunyai andil yang besar dari total emisi gas rumah kaca. Sumberdaya energi merupakan sumberdaya yang memiliki peranan penting bagi pembangunan ekonomi nasional. Agar pengembangan pembanguan ekonomi nasional terus meningkat perlu adanya perhatian yang lebih dicurahkan terhadap penyediaan sumberdaya energi terlebih dengan adanya isu krisis energi.

Sektor peternakan mempunyai andil sebesar 18% dari total emisi gas rumah kaca, yang diukur dalam kadar CO2 dan metan CH4 (Anthropogenic methane), dimana metan mempunyai 23 kali lipat potensi resiko penyebab global warming jika dibandingkan dengan CO2 (Nielsen dkk, 2009). Sumber emisi gas rumah kaca pada sektor peternakan berasal dari aktivitas pencernaan dan pengelolaan limbah ternak (Gustiar dkk, 2014). Pulau Jawa menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup tinggi yang berasal dari rumah potong hewan dan peternakan sapi di Indonesia. Peternakan sapi potong di Pulau Jawa menyumbang emisi GRK sebesar 11684,4 GcCO2-e/tahun (Nurhayati & Wdiawati, 2017).

Limbah organik yang berupa darah, rumen dan feses dapat diubah menjadi sumber energi terbarukan (renewable energy sources) berupa biogas. Teknik yang biasa digunakan dalam pemanfaatan limbah menjadi energi (khuusnya biogas) adalah biochemical convension, yang mengubah limbah dengan bantuan mikroba (bakteri metanogenik) sehingga material akan terurai secara alami dalam kondisi anaerobic (Elizabeth & Rusdiana, 2011; Omari et al., 2014; Juraida dkk, 2019). Proses mengubah limbah ternak menjadi sumber energi terbarukan merupakan tindakan yang tepat dan menguntungkan karena dengan tindakan tersebut dapat menjaga kelestarian alam dengan cara mengurangi emisi gas rumah kaca.

Cattlebuffalove, coba bayangkan berapa banyak potensi biogas yang bisa digunakan menjadi sumber energi terbarukan hanya dari peternakan sapi potong saja dan apa yang akan terjadi jika kita tidak memanfaatkan potensi tersebut. Dampak apa yang akan kita rasakan nantinya, dan akan sepanas apa Pulau Jawa nantinya. Hal ini menjadi concern karena dapat membantu program pemerintah dalam meningkatkan penggunaan energi sebesar 23% pada tahun 2025 (Juraida, 2018).

Emisi gas rumah kaca yang berasal dari sektor peternakan mulai dari hulu hingga hilir khususnya pada peternakan sapi potong di Pulau Jawa dapat menjadi dampak positif atau negatif pada lingkungan, tergantung dari apa yang akan kita lakukan dan sikap apa yang akan kita ambil mengenai hal tersebut. Semuanya tergantung pilihan kita, sekecil apapun kontribusimu, kontribusimu akan membangunkan kontribusi yang lain. Untuk itu, tetap sayangi lingkungan dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada yaa Cattlebuffalove!

Sumber :

Elizabeth, R., & Rusdiana, S. (2011). Efektivitas pemanfaatan biogass sebagai sumber bahan bakar dalam mengatasi biaya ekonomi rumah tangga di Perdesaan. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian Republik Indonesia.

Gustiar, F., Suwignyo, R., A., Suheryanto & Munandar. (2014). Reduksi Gas Metan (CH4) dengan Meningkatan Komposisi Konsentrat dalam Pakan Ternak Sapi. Jurnal Peternakan Sriwijaya, 3(1), 14-24.

Juraida, A., Prambudia, Y., Rahman, A., & Saragih, N. I. (2018). Kajian Pengurangan Emisi Karbon Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Rumah Potong Hewan Sebagai Biogas. Seminar Nasional Institut Teknologi Nasional

Juraida, A., Prambudia, Y., Rahman, A., & Saragih, N. I. (2019). Studi Pemanfaatan Biogas dari Limbah Rumah Potong Hewan untuk Mendukung Ketahanan Energi di Kota Bandung. Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 7 (1),26-37

Nielsen, J., Seadi, T., & Popiel, P. (2009). The Future Of Anaerobic Digestion And Biogas Utilization. Bioresource Technology, 100, 5478-5484.

Nurhayati, I., & Widiawati, Y. (2017). Emisi Gas Rumah Kaca dari Peternakan di Pulau Jawa yang Dihitung dengan Metode Tier-1 IPCC. In Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner (pp. 292-300).

Omari, A. M., Kichonge, B. N., John, G. R., Njau, K. N., & Mtui, P. L. (2014). Potential of municipal solid waste, as renewable energy source – A case study of Arusha, Tanzania. International Journal of Renewable Energy Technology Research, 3(6), 1–9.

Tinggalkan Komentar

Translate »