Oleh Muhammad Irfan Maulana

Halo, Cattlebuffalove!

Limbah adalah bahan atau barang sampingan yang dihasilkan dari suatu kegiatan atau suatu proses produksi yang telah mengalami perubahan fungsi dari kondisi aslinya (Kemenperindag. 1997). Bidang peternakan sebenarnya tidak pernah lepas dari limbah yang selalu dihasilkan setiap saat sebagai hasil atau sisa metabolisme dalam tubuh ternak. Limbah ternak adalah seluruh sisa buangan dari kegiatan peternakan yang dapat berupa limbah cair, limbah padat ataupun berupa gas. Limbah padat berupa feses, sisa pakan yang tidak termakan dan bangkai, sedangkan limbah cair dapat berupa urin. Limbah yang dibiarkan begitu saja di sekitar kandang maupun yang dibuang sembarangan dapat menimbulkan banyak bakteri dan memicu tumbuhnya virus yang berdampak pada kesehatan. Selain itu dapat menjadi potensi pencemaran yang dapat merusak ekosistem.

Adanya limbah sebenarnya tidak dapat dicegah, akan tetapi dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan limbah ternak cenderung diabaikan pada tingkat peternakan rakyat. Adanya stigma hewan ternak sebagai tabungan atau investasi masa tua pada kalangan peternak rakyat bukan sebagai komoditas bisnis membuat pemanfaatan hasil samping dari produksi peternakan ini tidak maksimal. Tentunya ini menjadi isu yang sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan serius.

Limbah industri peternakan sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai produk sampingan yang memiliki nilai jual kembali yang tinggi. Pengolahan sampingan hasil peternakan pun dapat dijadikan sebagai potensi yang dapat mensejahterakan peternakan rakyat. Sebagai contoh, kita biasa menemukan instalasi biogas yang digunakan peternak rakyat untuk digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak. Tentunya ini merupakan bentuk upaya memanfaatkan limbah khusus nya gas metana (NH3) yang berpotensi menyebabkan pemanasan global agar tidak terbuang sia-sia serta dapat menghemat pengeluaran untuk membeli gas LPG sebagai bahan bakar untuk memasak bahkan dapat dijadikan untuk sumber listrik. Jika hal ini dikembangkan secara tepat dengan menggunakan teknologi yang berkembang saat ini, tentunya akan menjadi sumber energi yang ramah lingkungan.

Limbah peternakan akan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis yang tinggi jika kita sebagai Sumber Daya Manusia yang unggul dapat mengelola limbah secara efektif dengan memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang. Limbah peternakan yang selama ini dianggap sampah, dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan atau dengan kata lain “tambang emas”. Kita sebagai Sumber Daya Manusia berperan penting sebagai agent of change harus menciptakan inovasi pada pengelolaan peternakan yang terintegrasi supaya dari hulu sampai ke hilir semua komponen yang ada dalam peternakan ini dapat dimanfaatkan sesuai dengan prinsip zero waste.Dengan penerapan prinsip ini tentunya limbah dapat dijadikan sebagai sesuatu yang dapat mendatangkan nilai ekonomi yang berkontribusi bagi perekonomian khususnya peternak rakyat.

Perlu adanya pemahaman yang ditanamkan dikalangan peternak dengan cara merubah pola pikirnya dengan adanya revitalisasi pengelolaan limbah peternakan yang ramah lingkungan dengan berorientasi pada prinsip 3R yaitu, Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur-ulang). Prinsip ini harus didukung juga dengan pemeliharaan ternak dan pengelolaan limbah ternaknya dengan mengacu pada circular economy atau siklus ekonomi sebagai praktik bisnis yang menguntungkan dengan memanfaatkan limbah dan produk samping atau hasil ikutan dari aktivitas peternakan. Circular economy didefinisikan sebagai sebuah sistem dengan mempertahankan nilai dari produk, material, dan sumber daya di dalam siklus ekonomi selama mungkin sehingga limbah dan hasil ikutan ternak dapat diminimalkan atau disebut dengan zero waste. Dalam konteks ini, circular economy tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah dengan prinsip 3R tetapi bagaimana merancang pemanfaatan limbah dan hasil ikutan menjadi produk yang berharga secara ekonomi dan bernilai jual tinggi.

Limbah peternakan dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi penggunaan Sumber Energi Tak Terbarukan yang dalam peroses pembuatan nya diperlukan waktu yang sangat lama hingga beribu tahun. Contoh hasil pengolahan limbah ternak yang menjadi sumber energi alternatif adalah biogas. Gas ini berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, limbah yang berasal dari manusia dan hewan. Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh bakteri metanogenik anaerobik (bakteri penghasil gas metan yang hanya dapat hidup dalam kondisi bebas oksigen) dari proses perombakan bahan-bahan organik. Karena sifat gas metan yang mudah terbakar, biogas dapat dipakai sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat.

Biogas merupakan energi alternatif yang sangat dianjurkan untuk mengantisipasi perubahan iklim. Karena pengelolaan limbah ternak menjadi biogas terbukti dapat menurunkan emisi gas rumah kaca. Hal ini dapat dipastikan karena penggunaan biogas mencegah pelepasan gas CH4 yang dihasilkan oleh limbah ternak ke atmosfer. Selain itu, biogas tidak menghasilkan asap seperti pada pembakaran bahan bakar fosil. Dan karena biogas berasal dari limbah, maka sangat membantu pengelolaan limbah dan sampah untuk mewujudkan lingkungan yang bersih.

Contoh pemanfaatan limbah ternak lainnya dengan mengolahnya menjadi pupuk organik. Pupuk organik padat asal feses sapi mengandung BK 65%, P2O5 1,81%, K2O 1,89%, CaO 1,96%, MgO 2,96%, C/N ratio max 0,70 % dan bakteri patogen 22,3%. Urin sapi murni mengandung rasio C:N 0,85 %, 1,68-1,96 % N total, 0,31-0,38 % P2O5 dan 1,7-0,21 K2O (Lutojo dkk., 2010). Pengolahan limbah ternak ini berlangsung dengan proses dekomposisi bahan–bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme.

Bahan pokok pupuk organik ini adalah feses dan urin sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam, jerami padi dll, yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah (misalnya. stardect atau bahan sejenis) ditambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos, selain ditambah serbuk gergaji, atau sekam, jerami padi dapat juga ditambahkan abu dan kalsit/kapur. Didalam feses sapi ini memiliki kandungan nitrogen dan potassium, di samping itu feses sapi merupakan limbah ternak yang baik untuk  kompos.

Urine ternak ruminansia dapat diolah sebagai pupuk cair dan pestisida alami. Kandungan urine berupa nitrogen (N) inilah yang dimanfaatkan untuk dijadikan pupuk bagi tanaman. Perlu adanya pengolahan berupa fermentasi baik secara anaerob maupun aerob agar urine bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Bau khas urine juga dapat dimanfaatkan peternak sebagai pengusir hama bagi tumbuh- tumbuhan.

Hasil pengolahan limbah tersebut tentunya harus didukung dengan adanya pengembangan kompetensi SDM dalam pengelolaan limbah peternakan dan hasil ikutan ternak atau by product yang merupakan solusi pengelolaan peternakan secara komprehensif dan berdaya saing tinggi. Besarnya manfaat limbah dari ternak ruminansia perlu diketahui peternak yang masih awam. Selain mendorong efesiensi secara ekonomi, juga turut membantu menjaga lingkungan dari pencemaran limbah.

Sumber:

Septian Bima Fajar Prambudi, Salundik , Muladno. 2020. Potensi Pemanfaatan Limbah Peternakan Sapi Pedaging di SPR (Sekolah Peternakan Rakyat) Ngudi Rejeki, Kabupaten Kediri. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, Bogor.

Rupa Matheus, Jemseng C. Abineno dan Antonius Jehamat. 2019. Penerapan Konsep Zero Waste Dalam Usaha Penggemukan Sapi: Upaya Untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi Limbah Ternak. Manajemen Pertanian Lahan Kering, Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

Tinggalkan Komentar

Translate »