Halo, Cattlebuffalove!

Tau gak sih, apa masalah yang sering dialami dalam industri peternakan? Ternyata masalah limbah selalu menjadi masalah dalam industri peternakan. Limbah merupakan bahan atau barang sisa bekas dari suatu kegiatan atau proses produksi yang fungsinya sudah berubah dari aslinya (Kemenperindag, 1997). Limbah yang dihasilkan dari suatu peternakan dapat berupa feses dan urin. Feses sapi selalu menjadi masalah bagi para peternak, selain bau menyengat yang mengganggu lingkungan sekitar, sulitnya pembuangan limbah feses ini juga menjadi masalah yang perlu diatasi. Apabila peternak membuang limbah sembarangan, maka dapat menimbulkan masalah lain diantaranya adalah pencemaran lingkungan serta dapat menjadi sumber penyakit apabila tidak dilakukan penanganan dan pengolahan yang sesuai. Maka dari itu pengolahan limbah menjadi suatu solusi untuk permasalahan tersebut.

Limbah ternak sebagai hasil akhir dari usaha peternakan memiliki potensi untuk dikelola menjadi pupuk organik seperti kompos yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan, meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi dampak pencemaran terhadap lingkungan (Nugraha dan Amini, 2013 ; Nenobesi, Mella dan Soetedjo, 2017). Dengan kata lain limbah peternakan dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Pupuk organik ini sendiri merupakan bahan organik tanah yang menjadi sumber nitrogen tanah yang utama, dimana peranannya cukup besar terhadap perbaikan sifat kimia dan biologi tanah serta lingkungan. Pembuatan pupuk organik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Cacahan kayu kayu berfungsi untuk mengurangi bau yang keluar dan sekaligus untuk menahan air yang masuk ke tumpukan kompos dan menjaga kelembaban. Setelah semua selesai tunggu 3 minggu dan didiamkan, apabila kelihatan kering beri sedikit air dan apabila sudah 3 minggu campuran tersebut dibalik, yaitu  dengan membalik tumpukan kompos yang dibawah menjadi diatas, sehingga tecampur sempurna. Hasil pembalikan pertama (setelah 3 minggu) kompos sudah hancur dan berwarna hitam, bergumpal kecil-kecil. Selanjutnya tunggu hingga pembalikan kedua yaitu selama 3 minggu, dan selanjutnya apabila kompos sudah kelihatan menyerupai tanah, dan feses sudah hancur serta tidak berbau, kita tinggal menunggu hingga pembalikan ketiga yaitu 3 minggu kemudian, di sini kompos sudah jadi. Selanjutnya kita tinggal melakukan penyaringan, dan didiamkan selama 2 minggu (Ratriyanto, 2019).

Jadi, setelah mengetahui dampak dan manfaat dari pengolahan serta pemanfaatan limbah feses sapi ini diharapkan banyak peternak sapi yang mulai mengolah limbahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk kompos ini. Selain mengurangi dampak pencemaran lingkungan, pembuatan pupuk kompos ini juga dapat bermanfaat untuk penyuburan tanah di sektor pertanian serta menjadi penghasilan tambahan bagi para peternak.

Sumber:

 [Kemenperindag] Menteri Perindustrian dan Perdagangan. No. 231/MPP/Kep/7/1997. Jakarta (ID). Kementerian Perindustrian dan Perdagangan.

Nenobesi, D., Mella, W., & Soetedjo, P. (2017). Pemanfaatan Limbah Padat Kompos Kotoran Ternak dalam Meningkatkan Daya Dukung Lingkungan dan Biomassa Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.). Pangan, 26, 43–55.

Nugraha, P. & Amini, N. (2013). Pemanfaatan Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Organik. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan. 2, 193–197.

Ratriyanto. A. Widyawati, S.D. Suprayogi, W.P.S. Prastowo, S. Widyas, N. (2019). Pembuatan Pupuk Organik dari Kotoran Ternak untuk Meningkatkan Produksi Pertanian. Jurnal SEMAR Vol. 8 No. 1, 2019 hal. 9 – 13.

Tinggalkan Komentar

Translate »