Webinar World Milk Day dilaksanakan pada tanggal 01 Juni 2020 dengan mengangkat tema “Industri Susu di Tangan Milenial” yang dibuka secara resmi oleh Rizkan Primadia sebagai Ketua Umum Cattle Buffalo Club. Kegiatan ini terbagi menjadi dua sesi. yaitu sesi pertama dilakukan dengan pemaparan materi oleh pemateri dari berbagai bidang, pemaparan materi dilakukan selama 20 menit untuk setiap pemateri. Setelah sesi pemaparan materi dilanjut dengan sesi kedua, yaitu sesi diskusi yang dipimpin oleh moderator. Sesi diskusi dilakukan selama 50 menit dengan mengambil beberapa pertanyaan dari audience yang telah bertanya di fitur chat Zoom yang kemudian di jawab langsung oleh keempat pemateri di Webinar World Milk Day. Peserta yang menghadiri kegiatan webinar ini yaitu sebanyak 260 orang.

Pematerian pertama disampaikan oleh Afghan Arif Arandi, S.Pt (Anggota KPBS dan CEO Ciawitali Farm) dengan tema “Urgensi Regenerasi dan Peran Generasi Muda Sebagai Peternak Sapi Perah Bagi Keberlangsungan Usaha Ternak Sapi Perah di Indonesia”. Peternak muda adalah peternak yang berusia di bawah 35 tahun. Jumlah yg berusia 35 tahun di bawah 30%. Sekitar 20% peternak muda yang berada di KPBS. Hal ini menjadi suatu masalah baik di Indonesia maupun di seluruh dunia bahwa peternak – peternak semakin tua dan tidak ada generasi muda untuk terjun langsung di bidang peternakan. Hal yang menjadi penghambat diantaranya kurangnya motivasi untuk generasi muda, kurangnya support/dukungan dari lingkungan terdekat yaitu keluarga, dan modal yang besar untuk usaha sapi perah.

Pematerian kedua disampaikan oleh drh. Tjahjani Widiastuti (Kepala Subdirektorat Pengolahan, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Kementrian Pertanian) dengan tema “Peran Pemerintah Dalam Program Regenerasi Peternak Sapi Perah”. Menurunnya keinginan generasi muda untuk bisnis peternakan karena gererasi muda memiliki mindset bahwa usaha ini kotor dan kurang menguntungkan. Strategi direktorat jendral pasca perubahan permentan yaitu peninggkatan populasi sapi perah, peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas susu, dsb.

Data populasi dari tahun 2012-2020 terjadi peningkatan terus akan kebutuhan susu, pada tahun 2020 ini dengan adanya covid – 19 ada dampak positif terhadap permintaan susu. Tantangan peternak milenial yang akan dihadapi dimasa yang akan datang adalah kualitas dan kuantitas Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) yang masih rendah, produktivitas sapi perah masih rendah (S/C>2), mengembangkan industry 4.0, terkait dengan robotic system, mengembangkan stategi pemasaran, penerapan Good Farming Practice. Peran pemerintah dalam menjaga regenerasi peternak sapi perah yaitu mencarikan akses permodalan melalui KUR, kur ini bunganya 6%, akses permodalan lain PKBL dengan bunga 3%, kegiatan pemerintah melalui akses asuransi peternak, peran pemerintah melalui G to G, mengirimkan beberapa orang peternak untuk studi di Denmark. Program scholarship ke New Zealand, pemerintah kerjasama dengan BPOM untuk menerapkan izin edar produk, dan fasilitas pemasaran online untuk mensupport para pembisnis muda yang bergerak di bidang peternakan.

Pematerian ketiga disampaikan oleh Rik Rik Mokhamad Rizki, S.Si. (Dairy Development Extention Manager PT. Frisian Flag Indonesia) dengan tema “Peran Swasta Dalam Program Regenerasi Peternak Sapi Perah”. Mengenai kondisi saat ini di Indonesia, peternak di Indonesia bisa dikategorikan small holder dairy farming. Ada 7 tantangan salah satunya mengenai kualitas, keterbatasan lahan, regenerasi. Regenerasi, rata-rata usia peternak 45 tahun (survey 2018), penjabarannya: 30% berada di usia 36 – 37 tahun, hal ini menjadi sebuah urgensi dimana semua stakeholder harus melakukan sesuatu khususnya perusahaan swasta. Tantangan untuk masalah regenerasi diantaranya konsistensi dari peserta, support dari keluarga (finansial & non finansial serta knowlage gap), stakeholder (pihak swasta, pemerintah, perbankan, dsb), psikologi yang masih belum stabil (usia di bawah 30 thn). Terdapat peluang untuk generasi muda menekuni dunia peternakan yaitu peternak memiliki kebebasan waktu dalam bekerja, Demand dari produk peternakan (susu segar) konsumsi perkapita masih di angka 16%, dan social environment, semangat dan daya tahan yang tinggi berhubung masih muda. Kuncinya keinginan belajar dan untuk berubah. Diskusi kelompok dan pencatatan penting, branding juga penting untuk memotivasi diri dan memotivasi yang lain.

Pematerian keempat diberikan oleh Andromeda, S.Pt. (CEO Sweet Sundae Ice Cream) dengan tema “Success Story di Bidang Usaha Olahan Susu”. Sekarang memulai usaha bisa dengan modal nol rupiah yaitu dengan ikut lomba kewirausahaan dengan mengajukan proposal. Permasalahan modal sekarang ini sudah basi karena sudah banyak lomba kewirausahaan yang diadakan bahkan hadiahnya sampai 100 juta. UKM sekarang bisa lebih berkembang lagi karena banyak fasilitas dari pemerintah ataupun swasta buat mengembangkannya. Pada tahun 2018, nilai impor susu Indonesia sebesar Rp. 17 triliun. Apabila uang sebesar itu masuk ke lokal maka peternak-peternak akan sejahtera. Problem yg ada di peternak sekarang ini yaitu peternak sudah tua, tidak ada penerus, dan adanya ketakutan susunya dibeli dengan harga murah.            

Melihat pengalaman serta pemaparan dari pemateri yang dapat dikategorikan sebagai generasi muda itu menunjukkan bahwa peternakan sapi perah masih mempunyai peluang yang sangat besar dan menarik untuk digeluti oleh generasi muda. Oleh karena itu, peluang tersebut harus dimanfaatkan karena kita sebagai generasi Milenial adalah generasi harapan untuk regenerasi peternakan kedepannya.

by: Divisi Penelitian dan Pengembangan

Tinggalkan Komentar

Translate »