Limbah peternakan selalu menjadi masalah terbesar dalam usaha peternakan karena limbah dianggap dapat menimbulkan berbagai ancaman bagi lingkungan. salah satunya yaitu emisi gas efek rumah kaca. Emisi gas rumah kaca seperti CO2, metana, serta aminoa. Disamping itu, banyak hal yang dapat dilakukan mengenai pengelolaaan limbah peternakan agar lebih ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.

Pada webinar yang diselenggarakan oleh biro limbah dari unit kegiatan mahasiswa Cattle Buffalo Club Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran yang diadakan pada 11 September 2020 dengan mengangkat topik “ Pengembangan IPTEK pengelolaan Limbah Peternakn yang Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan” dibahas pemanfaatan limbah peternakan yang dijelaskan oleh para pemateri yang hadir.  

Balai Penelitian Pengembangan Peternakan Batu yang hadir sebagai pemateri menyebutkan bahwa biogas dapat menjadi salah satu alternatif  teknologi untuk mengatasi emisi gas rumah kaca. Limbah peternakan dapat diubah menjadi energi yang tidak merusak lingkungan. Proses dari pembuatan biogas yaitu, pertama feses sapi masuk melalui inlet, selanjutkan dimasukan kedalam digester sehingga terjadi fermentasi, lalu sisa biogas dikeluarkan melalui outlet. Bahan yang masuk ke digester akan mengalami proses biologis maupun kimiawi, diantaranya :

  1. Hidrolisis : penguraian senyawa kompeks menjadi senyawa yang lebih pendek
    1. Pengasaman : senyawa organik akan diubah menjadi senyawa asam, dari pengasaman semua senyawa akan dikonversi menjadi gas metan.

Dalam membangun digester, kita harus memperhatikan bagian bagian yang menjadi unsur pokok pembuat digester biogas. Seperti inlet tank, membangun kubah yang didalamnya terdapat 2 bagian, tempat lumpur kotoran ternak dibawah yang akan menghasilkan gas yang akan ditampung pada bagian atas, dan outlet tank sehingga sisa kotoran akan keluar secara otomatis. Karakteristik liquid petroleum gas (LPG) berbeda dengan gas yang dihasilkan dari biogas. Biogas jika dibandingkan dengan BBM yang mempunyai standart harga baku sehingga niai ekonomi dari biogas dapat dihitung.

Berdasarkan penjelasan dari Dr. Muhamad Fatah Wiyatna, S.Pt., M.Si pengolahan limbah peternakan selain menjadi biogas dapat juga digunakan sebagai biopori pemupuk tanaman, makanan maggot BSF, vericompos, pengomposan aerobic dan pengomposan an-aerobic. Selain itu, ternyata limbah peternakan ayam yaitu litter seperti yang dijelaskan oleh Dr. Ir. Cahya Setya Utama S.Pt., M.Si., IPM dapat menjadi salah satu bahan baku pembuatan pakan alternatif bagi ternak. Litter merupakan campuran sekam dan feses ayam yang mengandung berbagai bahan anorganik dan organik seperti air, garam anorganik, mikrobia, sisa-sisa sekresi saluran pencernaan seperti asam empedu dan garam empedu, mucus, sel-sel epitel hasil peluruhan atau penghancuran dan residu pakan tidak tercerna. Syarat litter untuk pakan adalah

  • Berasal dari litter ayam yang sehat
    • Dominan kotoran dari pada sekam
      • Maksimal berumur 20 hari stelah panen
      • Kadar air litter berkisar 30-40%

Dari data penelitian utama tahun 2020 menyebutkan bahwa kandungan nutrient litter fermentasi antara lain :

  • PK 14-16%
  • TDN 60-65
  • Cemaran MBM : negative bebas telur cacing, bebas antibiotic, bebas salmonella, bebas Clostridium perfringens, bebas E. Coli
  • Kandunga Pb : 0,007%
  • Kandunga Cu : 0,020%
  • Kadar mercuri : rendah

Total BAL : 29 × 106 cfu/gr

by: Divisi Penelitian dan Pengembangan

Tinggalkan Komentar

Translate »