Webinar Series CBC – Kerbau dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 2020 dengan tema “Menjaga Tinta Hitam Agar Tidak Memudar : Kerbau Sebagai Bagian Budaya dan Potensi Sumber Genetik Asli Indonesia” yang dibuka secara resmi oleh Ir. Sugiono, MP. sebagai Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak. Kegiatan ini terbagi menjadi tiga sesi, yaitu sesi pertama pemaparan materi oleh pemateri dari berbagai bidang, sesi kedua sesi diskusi dan sesi ketiga pembahasan materi oleh seorang yang ahli dibidang kerbau. Peserta yang menghadiri kegiatan webinar ini yaitu sebanyak 194 orang.

Pematerian pertama disampaikan oleh Dr. Ika Sumantri, S. Pt., M.Si., M. Sc., IPM. dari pihak Akademisi sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Pertanian  Universitas Lambung Mangkurat dengan tema “Mengenal Lebih Dekat Sejarah dan Potensi Kerbau Sebagai Sumber Daya Genetik Lokal. Beliau menyampaikan kerbau Indonesia kemungkinan berasal dari Cina dan Vietnam. Populasi kerbau mulai berkurang sejak diperkenalkannya Sapi Zebu yang berasal dari India pada masa Hindia Belanda. Kerbau memiliki kenggulan diantaranya mampu memanfaatkan pakan kualitas rendah dan lebih tahan penyakit dan parasit. Rumpun kerbau di Indonesia menurut kementan antara lain yaitu Kerbau Simeuleu, Kerbau Toraya, Kerbau Pampangan, Kerbau Kaltim, Kerbau Kalsel, Kerbau Moa dan Kerbau Sumbawa.

Rumpun kerbau di Kalimantan terbagi menjadi kerbau rawa, kerbau kalang dan kerbau gunung. Kerbau rawa tersebar ke berbagai daerah rawa atau sekitar hulu sungai dan dipelihara secara ekstensif. Kerbau kalang dipelihara secara intensif dalam kandang (kalang). Kerbau gunung berada di wilayah Kalimantan Selatan yang merupakan kerbau pekerja yang dimanfaatkan sebagai tenaga penarik logistik kayu. Populasi kerbau di Kalimantan Selatan mengalami penurunan dan memiliki jumlah kelahiran yang rendah. Penyebabnya antara lain yaitu lahan pengembalaan yang berkurang, reproduksi rendah, penyakit dan orientasi pemeliharaan. Di Kalimantan Selatan terjadi penurunan pemotongan kerbau, namun terjadi kenaikan impor daging kerbau dari India. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat disana gemar mengkonsumsi daging kerbau.

Pematerian kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Syahruddin Said, M. Agr.Sc., IPU. sebagai Ketua Umum Himpunan Ilmuan Peternakan Indonesia (HILPI)) dengan tema “Kerbau Belang Tana Toraja, “Emas Merah” yang Terlupakan”. Beliau menyampaikan ternak kerbau merupakan ternak semi akuatik dengan populasi kerbau di Indonesia terdiri atas 5% kerbau sungai dan 95%  kerbau lumpur. Kerbau di masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan tersendiri, antara lain sebagai upacara adat, status sosial dan Kyai Slamet (Kerbau Bule). Kerbau dijadikan pula sebagai objek pariwisata, misalnya adu kerbau dan karapan kerbau. Kerbau-kerbau di Indonesia mempunyai kasta yang berbeda, yaitu Tedong Bulan (putih) kasta paling rendah dengan harga yang rendah, Tedong Pudu (hitam) harga puluhan juta, Tedong Bonga (belang dengan dasar hitam) harga ratusan juta dan Tedong Saleko (belang dengan dasar putih) kasta paling tinggi dengan harga mencapai 1 milyar.

Terlepas sebagai salah satu bagian dari budaya, Kerbau Belang juga berpotensi sebagai tenak bibit. Potensi kerbau bisa diangkat dengan regulasi pemerintah yang baik. Sangat mungkin untuk merubah pemeliharaan kerbau, namun sifat produksi dan reproduksi masih sangat tebatas. Harus ada gerakan yang dilakukan, diantaranya gerakan kerbau Indonesia agar membuka mata masyarakat bahwa ada potensi yang terlupakan.

Pembahasan materi disampaikan oleh Samsu Hilal, M. Pd sebagai Teknisi Penggemukan Kerbau Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan tema “Sejarah, Potensi dan Keragaman Budaya Kerbau di Indonesia”. Beliau membahas bahwa terdapat hal yang sangat disayangkan di Indonesia karena tidak ada peraturan menteri pertanian mengenai kerbau. Hal tersebut menyebabkan kekalahan kerbau dalam kompetisi dengan sapi dan penyusutan jumlah ternak kerbau, data sementara pertengahan tahun 2019 menunjukan populasi sapi potong sebanyak 17,12 juta sedangkan kerbau hanya 1,14 juta (Dirjen PKH, 2019). Dibutuhkan strategi inovatif untuk mengembalikan nama kebau di Indonesia, salah satunya dengan melakukan sosialisasi mengenai produk-produk ternak, edukasi peternak, dan juga publikasi mengenai kajian-kajian kerbau.

Salah satu hal yang berhubungan dengan ternak adalah penggemukan. Metode yang digunakan untuk penggemukan kerbau adalah dengan pola usaha penggemukan kereman dan dry-lot. Tujuan dari penggemukan pada kerbau adalah untuk meningkatkan kelangsungan hidup pada kerbau itu sendiri. Teknik pemeliharaan penggemukan kerbau dilakukan dengan tahapan seleksi, penimbangan bobot, pengkondisian adaptasi kerbau di kandang karantina, kebutuhan pakan, pengkondisian kerbau untuk berendam di air kubangan dan pengasapan.

by: Divisi Penelitian dan Pengembangan

Tinggalkan Komentar

Translate »