Menanggapi permasalahan ketersediaan daging nasional yang masih jauh dari permintaan, pemerintah dalam rangka pemenuhan kebutuhan daging nasional menargetkan swasembada daging nasional pada tahun 2026. Pemerintah melalui Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) mengeluarkan beberapa program unggulan, salah satunya adalah program sapi belgian blue. Bukannya berjalan mulus tanpa hambatan, beberapa kendala di lapangan perlu menjadi perhatian pemerintah jika tetap ingin melanjutkan program belgian blue. Menanggapi hal tersebut, CBC Fapet Unpad mengadakan webinar dengan tema “Benang Merah Belgian Blue : Kelanjutan Perkembangan Sapi Belgian Blue sebagai Upaya Pemerintah untuk Mencapai Swasembada Daging Nasional”. Webinar tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu (7/11) melalui aplikasi Zoom Meeting dan dihadiri sebanyak 512 partisipan.

Sisi baiknya, sapi belgian blue diklaim akan menjadi breed unggulan yang dapat meningkatkan produksi daging nasional melalui presentase karkasnya yang tinggi. Gun Gun Gunara, S.Pt. MP., selaku perwakilan dari Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, menyebutkan bahwa pembentukan bangsa sapi belgian blue di Indonesia bisa memenuhi kebutuhan protein hewani. Jika benar diklaim seperti itu, sejauh manakah impelentasi di lapangan program semen belgian blue? Apakah benar terjadi peningkatan produksi daging nasional? Atau justru menemui kendala?

Seksi Pelayanan Teknik Pemeliharaan Ternak Balai Embrio Ternak, Ir. Yanyan Setiawan, S.Pt., M.Si., IPM. menjabarkan rencana pengembangan rumpun sapi Belgian Blue yang dilaksanakan di 12 UPT pelaksana milik pemerintah. Pihaknya mengakui jika keturunan sapi belgian blue murni menemui kendala pada kelahiran yang harus menjalani proses sesar yang memiliki kemungkinan 95% sesar. Namun pihaknya menjelaskan bahwa straw-semen belgian blue yang akan disebar kepada masyarakat adalah semen belgian blue crossing atau 75% memiliki darah belgian blue, kemungkinan besar 96% sapi indukan yang di injeksi semen ini tidak akan menjalani proses sesar berdasarkan track record di BET. Hal ini tentu saja belum cukup untuk membuktikan jika sapi belgian blue adalah jawaban dari permasalahan kurangnya ketersediaan daging sapi nasional. Bagaimana dari sisi genetik? Apakah justru akan menjadi ancaman bagi sumber daya genetik asli Indonesia?

Menurut Nuzul Widyas, S.Pt., M.SC., selaku dosen Universitas Sebelas Maret mengatakan dalam aspek genetik, sapi Double Muscle (DM) muncul karena hasil mutasi dari populasi sapi dual purpose yang kemudian dikawinkan. Selain itu, genetik perototan pada sapi DM tidak dapat diturunkan setengahnya karena bersifat monogenik atau dipengaruhi oleh satu gen saja, artinya tidak ada sapi belgian blue campuran atau crossing. Pada pengembangannya pun terdapat isu-isu yang perlu dipertimbangkan, apabila sapi ini tidak diawasi dengan semestinya maka akan merusak populasi sapi potong. Berdasarkan hal tersebut, sapi belgian blue sudah jelas akan merusak genetik sapi lokal jika disebarkan di masyarakat. Jika begitu, lantas jawaban seperti apa yang harusnya diutarakan untuk meningkatkan produksi daging nasional?

Nyatanya pada pengembangan sapi belgian blue, menurut Rochadi Tawaf selaku Sekretaris Jendral Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), beliau mengutip dari penyataan Soehadji bahwa pemerintah harus mempunyai kebijakan yang berbasis pada kajian akademis seperti aspek teknis, sosial, dan ekonomis. Beliau juga menyarankan agar pemerintah dapat mengawasi introduksi sapi DM di Indonesia  agar mutasi genetik dapat terkendali. Selain itu, beliau juga lebih menyarankan agar pemerintah mampu mengembangkan sapi endemik Indonesia yang sudah teruji sesuai ekosistem Indonesia secara optimal. Sama halnya seperti Rochadi, menurut Andre Rivianda Daud selaku dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran mengatakan pemerintah harus melihat siapa saja pelaku sapi potong yang ada di Indonesia yang akan terkena dampaknya. Setiap pelaku sapi potong misalnya pembiak, pembesar dan pengecer memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan pasti dampaknya pun berbeda. Intinya, sapi belgian blue tidak dapat begitu saja disebar ke masyarakat sebagai breed baru unggulan, karena nyatanya justru negara maju seperti amerika sudah tidak menggunakan lagi sapi jenis double muscle terkait isu animal welfare.

Dalam hal ini, Cattle Buffalo Club menginisiasi saran yang harus dipenuhi seluruh pihak yang terlibat dalam program semen belgian blue. Terdapat tiga poin utama yang diajukan, yaitu :

  1. Mendesak pemerintah agar melakukan kajian yang lebih komprehensif yang ditinjau dari berbagai aspek jika pemerintah ingin melanjutkan program penyebaran semen Belgian Blue.
  2. Menuntut pemerintah untuk lebih berfokus pada pengembangan sumber daya genetik lokal yang sudah teruji sesuai dengan iklim di Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan peternak kerakyatan dalam rangka swasembada daging nasional.
  3. Mengajak seluruh mahasiswa peternakan seluruh Indonesia untuk terus mengawal arah kebijakan pemerintah terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas daging nasional.

by: Divisi Penelitian dan Pengembangan

Tinggalkan Komentar

Translate »