Kerbau rawa merupakan hewan ternak yang biasa digunakan oleh masyarakat Sumatera Selatan untuk dimanfaatkan daging, susu dan tenaganya. Kerbau rawa memiliki ciri-ciri yaitu kulit yang tebal, berbulu hitam, kepala besar, kuping lebih panjang dan tanduk yang melingkar ke belakang. Masyarakat biasanya memelihara kerbau rawa secara tradisional yaitu digembalakan di daerah padang rumput dan areal rawa, selain untuk mencari makan, kerbau rawa juga biasa berendam dalam air.

Menurunnya populasi kerbau rawa ini diakibatkan karena semakin berkurangnya padang rumput dimana sebagai tempat kerbau mencari makan dan areal rawa yang biasa kerbau gunakan untuk berendam. Berkurangnya ekosistem kerbau rawa disebabkan oleh kebarakan hutan, lahan dan kebun di desa Riding, Kecamatan Pangkalan Lampan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Keadaan ini menyebabkan kerbau rawa sulit untuk mendapatkan makan, bahkan beberapa kerbau berendam di dalam lumpur di tengah kepulan asap yang menggumpal akibat kebakaran yang terjadi. Berkurangnya padang rumput sebagai tempat kerbau mencari makan menjadi salah satu penyebab menurunnya populasi kerbau rawa ini, dimana ternak ruminansia membutuhkan hijauan sekitar 10% dari bobot badannya, sebagai contoh apabila kerbau rawa dewasa memiliki bobot 450-800kg makan kerbau tersebut membutuhkan sekitar 4,5-8kg hijauan perhari perekor. Tercatat pada tahun 2010 terdapat 15.000 ekor kerbau rawa, sedangkan pada tahun 2019 tersisa sekitar 10.000 ekor.

Upaya dalam menanggulangi berkurangnya ekosistem kerbau rawa yang dapat menyebabkan terus menurunnya populasi kerbau rawa yaitu dengan diadakannya sosialisasi kepada masyarakat yang di dalamnya membahas mengenai edukasi cara membuat pakan cadangan seperti pembuatan silase, agar jika dalam kondisi seperti karhutla, pakan untuk kerbau rawa tetap tersedia dan campur tangan pemerintah serta dunia swasta agar habitat kerbau rawa tidak terus menerus berkurang. Pihak pemerintah dapat menambah habitat seperti lahan padang rumput dan dikembangkan fasilitas yang dapat menunjang keberlanjutan populasi kerbau rawa agar tidak terjadi lagi penurunan.

Sumber : Liputan6

by: Divisi Penelitian dan Pengembangan

Tinggalkan Komentar

Translate »