Indonesia memproduksi kelapa sawit mencapai 48,68 juta ton (angka sementara) pada tahun 2018. Produksi tersebut membuat Indonesia menjadi negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kelapa Kementrian Pertanian, Indonesia memiliki lahan sawit mencapai 14,23 juta hektare (ha). Potensi ini dapat menjadi alternatif keterbatasan lahan pengembalaan sapi potong di Indonesia, mengingat kebutuhan masyarakat akan protein hewani terlebih disaat mendekati Hari Raya Idul Adha mencapai 541.171 ekor sapi jantan di sembelih, tidak sejalan dengan produksi yang cenderung statis dan berjalan lamban sedangkan permintaan pasar terus meningkat.

Parameter Kunci Keuntungan

Diketahui bahwa model desain percobaan usaha pengembalaan sapi bakalan di lahan perkebunan sawit memiliki ADG (Average Daily Growth) lebih dari 1 kilogram per ekor per hari untuk sapi steer, sementara untuk sapi betina memiliki angka 330 gram per ekor per hari. Biaya input untuk pengembangbiakan sapi betina sekitar Rp. 10.000,00. Biaya untuk pemeliharaan sapi steer tentunya akan lebih rendah dibandingkan dengan angka ini. Segala urusan sapi indukan seperti perkawinan, aborsi, kesulitan beranak, mortilalitas anak sapi, infertilitas sapi, pemisahan sapi betina produktif, kegagalan induk, penyapihan, kesuburan pejantan, pemeriksaan kebuntingan dan sebagainya tidak termasuk ke dalam paket manajemen. Tingkat kematian rata-rata sapi steer di padang pengembalaan akan selalu jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan sapi indukan. Harga bobot hidup di Kalimantan dan Sumatera, dimana sebagian besar lahan perkebunan kelapa sawit berada, setidaknya dihargai Rp. 45.000,00 per kg bobot hidup bahkan dapat mencapai Rp. 50.000,00 di beberapa daerah yang berarti memiliki keuntungan margin Rp. 5.000,00 per ekor per hari. Sapi bakalan steer tiba di Indonesia dengan bobot rata-rata sekitar 320 kg. Setelah dipelihara selama 1 tahun dengan pertambahan bobot 330 gram per hari, maka ada pertambahan bobot badan sekitar 120 kg, sehingga bobot hidupnya menjadi sekitar 440 kg. Jika laba bersihnya Rp5.000 per hari, maka laba tahunan per ekor menjadi Rp1,825 juta atau AUD $ 198 (AUD $ 1 = Rp9.200). Jika kelompok sapi steer yang mudah dikelola, yang terdiri dari 250 ekor sapi dapat digembalakan bersama-sama, maka pengembalian bersih tahunan untuk kelompok tersebut mestinya berkisar sekitar Rp456 juta (AUD $ 49.500). Dengan luas perkebunan rata-rata sekitar 5.000 hektar dan rata-rata kapasitas tampung satu ekor sapi steer adalah 5 hektar, artinya perkebunan mungkin dapat menampung rata-rata hingga 4 kelompok sapi yang masing-masingnya terdiri dari 250 ekor, dengan tingkat pengembalian bersih tahunan mendekati AUD $ 200.000.

Pemasaran mestinya tidak menghadirkan tantangan yang berarti, sebab sapi dapat dijual sepanjang tahun, diangkut dengan truk-truk kecil ke pasar yang lapar. Operasi penggembalaan 1.000 ekor sapi steer perlu menjual rata-rata kurang dari 3 ekor per hari. Sejak bunting hingga penjualan hasil keturunan sapi yang sudah dewasa, dapat memakan waktu mendekati 3 tahun untuk proyek pembiakan, sedangkan pembelian sapi bakalan hingga saat penjualan sapi steer gemuk, akan membutuhkan waktu mendekati 12 bulan atau kurang dari itu.

Jika seekor sapi bakalan impor bertumbuh 500 gram per hari, maka dalam 2 hari bobot sapi ini akan bertambah 1kg ,atau senilai Rp45.000. Mengurangi biaya 2 x Rp10.000 akan memberikan margin keuntungan sebesar Rp25.000 dalam 2 hari. Rp12.500 per hari atau AUD $1,35 per hari x 365 = AUD $ 492 per tahun atau $ 123.000 per tahun untuk satu kelompok sapi yang terdiri dari 250 ekor. Namun perlu diingat, bahwa tingkat kinerja seperti ini hanya dapat tercapai di perkebunan yang dikelola dengan sangat baik, dengan kondisi lahan penggembalaan yang mapan. Kuantitas dan kualitas rumput biasanya hanya mungkin dikembangkan setelah 2 atau 3 tahun penggembalaan sel secara efektif dan penyemprotan di tempat terhadap gulma berkayu.

Kekurangan dan Resiko

Salah satu kekhawatiran utama para pemilik perkebunan yang menggembalakan sapi di perkebunan mereka adalah bahwa sapi mereka berisiko terhadap pencurian karena sapi akan berada di perkebunan semalaman, yang membuat pencuri akan memiliki kesempatan mencuri sapi. Data yang dikumpulkan selama tiga tahun terakhir dari proyek-proyek yang menggembalakan sapi di perkebunan sawit di daerah terpencil di Sumatera dan Kalimantan menunjukkan bahwa meskipun hal ini masih menjadi faktor risiko, namun pengalaman aktual di lapangan menunjukkan bahwa risiko ini sangat kecil dan dapat diterima. Biaya keamanan yang efektif sudah termasuk dalam total biaya Rp 10.000,00 per hari untuk sapi bakalan.

Kesimpulan

Harus diakui bahwa model ini tidak menyelesaikan masalah pengembangbiakan sapi di Indonesia dan masih membutuhkan impor, tetapi dapat memberikan nilai tambah lokal di daerah terpencil dan berpotensi memotong biaya herbisida untuk perkebunan kelapa sawit. Meskipun peternakan usaha kecil tidak akan terlibat langsung dalam pengelolaan sapi, ada kemungkinan untuk memasukkan usaha kecil ini dalam proyek dengan mengoperasikan model inti-plasma, di mana kelompok peternak usaha kecil lokal dapat dibiayai untuk memiliki sejumlah sapi, sementara perusahaan perkebunan mengelola operasi penggembalaan dan berbagi keuntungan. Tantangan yang terkait dengan kesejahteraan sapi steer tidak signifikan dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi dalam memelihara sapi indukan.

Sumber : https://seabeefreport.com/2020/03/07/menggembalakan-sapi-bakalan-di-perkebunan-sawit/

by: Divisi Penelitian dan Pengembangan

Tinggalkan Komentar

Translate »