Bencana kekeringan melanda warga Dusun Keira, Desa Tounwanwan, Kecamatan Moa, Maluku Barat Daya, Maluku. Kemarau yang panjang tersebut  mengakibatkan kematian terhadap ternak kerbau. Pada saat ini hampir seribu ekor ternak kerbau milik warga mati akibat kekurangan air. Pada Dusun Keira terdapat 300 ekor mati  dan pada Desa Tounwanwan sekitar 500 ekor yang mati. Tidak hanya kerbau saja yang mati melainkan kambing dan ayam milik warga pun ikut mati.

Kurangnya makanan pakan ternak seperti hijauan yang menjadi salah satu faktor penyebab kematian hewan ternak itu sendiri, karena ladang dan sumur yang mengering. Sehingga kerbau yang ada di sana tidak mendapatkan makanan dan nutrisi yang cukup. Hijauan yang dibutuhkan  untuk anak kerbau 3-4 bulan memerlukan pakan hijauan sebanyak 10-12 kg, umur 6-12 bulan diperlukan 10-12 kg, sedangkan umur 12 bulan sampai kawin diperlukan hijauan sebanyak 30-35 kg. Pembuatan silase menjadi salah satu solusi untuk penyediaan pakan untuk menghadapi musim kemarau. Silase merupakan pakan hijauan ternak yang diawetkan dan disimpan dalam tempat kedap udara atau silo, drum, dan sudah terjadi fermentasi dalam keadaan tanpa udara atau yang disebut juga anaerob. Proses silase ini melibatkan bakteri-bakteri atau mikroba yang membentuk asam susu yaitu lactis acidi & streptococcus.

Kerbau merupakan ternak yang membutuhkan air secara adlibitum. Adlibitum adalah penyediaan air dalam jumlah tidak terbatas. Satu ekor kerbau memerlukan air 25-40 liter  setiap harinya. Pencegahan kekeringan dapat ditanggulangi dengan cara menyediakan kran-kran air dan membangun tempat minum khusus untuk kerbau dan mengevaluasi program penyediaan air bersih kepada Balai Sungai Provinsi agar memprioritaskan pembangunan penampungan air bersih.

Sumber: Liputan 6 (31 Januari 2020)

by: Divisi Penelitian dan Pengembangan

Tinggalkan Komentar

Translate »