oleh: Aziz (Biro Sapi Potong)

Clean meat adalah daging yang diperoleh dengan mengambil sel otot dari ternak dan mengembangkannya di dalam media khusus secara in-vitro di dalam laboratorium, yang artinya diluar tubuh ternak. Oleh karena itu, clean meat dikenal juga dengan sebutan cultured meat, in-vitro meat, dan lab-grown meat. Kata “clean” dalam clean meat mengacu pada kadar antibiotik, E. coli, Salmonella dan kontaminasi lain dalam daging ini yang jauh lebih rendah jika dibandingkan daging konvensional. Para peneliti clean meat mengklaim bahwa clean meat memberikan keuntungan berupa keberlanjutannya, ramah lingkungan, memerhatikan kesejahtraan hewan, dan keamanan pangan. Clean meat ini juga diharapkan dapat membantu kepuasan masyarakat manusia atas meningkatnya permintaan daging.

Pada tahun 2050,  Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan bahwa konsumsi daging oleh masyarakat dunia akan meningkat sebanyak 73% (FAO, 2011 dalam Cassiday, 2018). Lonjakan ini diperhitungkan sebagai akibat dari peningkatan populasi manusia di dunia dan konsumsi daging di negara berkembang. Sementara itu, sektor peternakan telah memakan 70% dari seluruh lahan pertanian termasuk lahan untuk penggembalaan dan tanaman pakan (FAO, 2009 dalam Cassiday, 2018). Dengan sistem pertenakan yang seperti ini, lahan yang tersedia tidak akan cukup untuk memenuhi permintaan daging yang terus meningkat, dan daging akan menjadi barang yang langka dan mewah.

Pada bulan Agustus 2013, sebuah tim riset dari Universitas Maastricht mengenalkan burger pertama yang terbuat dari cultured meat. Lalu pada bulan maret 2016, sebuah start up bernama Memphis Meats yang berlokasi di San Fransisco, California, Amerika Serikat, meresmikan lab-grown meatball, dengan harga 18.000 USD per pon. Tim riset dari Universitas Maastricht telah menurunkan harga produksinya menjadi 11.36 USD untuk satu burger, harga ini jauh lebih murah dari harga produksi burger cultured meat pertama yaitu 325.000 USD. Walaupun harga burger di restoran cepat saji ada diharga 2-3 USD untuk ukuran yang sama, bukan tidak mungkin harga burger clean meat ini dapat lebih murah dari burger yang dijual direstoran cepat saji dalam waktu beberapa tahun kedepan.

Indonesia mungkin membutuhkan clean meat ini, mengingat negara ini merupakan negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia dan kebutuhan daging pertahunnya pun mencapai ratusan ribu ton. Tapi dengan masuknya clean meat ke Indonesia, akan banyak pengusaha sapi potong di negara ini yang akan gulung tikar. Hal ini juga akan menyebabkan banyaknya tenaga kerja yang terserap oleh usaha ternak potong kehilangan pekerjaannya. Halal tidaknya clean meat ini pun menjadi pertanyaan, karena dalam proses pembuatan clean meat, sel otot diambil dari ternak hidup. Selain masalah tenaga kerja dan ke-halal-annya, Indonesia yang sebagian besarnya merupakan penganut agama Islam, memiliki acara keagamaan yang kita kenal dengan qurban pada momen Idul Adha. Acara keagamaan ini membutuhkan ternak hidup dalam jumlah yang banyak, dan jika clean meat ini komersil, jumlah ternak yang tersedia ditakutkan tidak mencukupi permintaan masyarakat akan ternak hidup. Jadi, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, apakah anda memiilih clean meat? Atau alternatif lain?

 

 

Referensi

  1. Woll, 2018. In-vitro meat : A solution for problems of meatproduction and meat consumption. https://www.ernaehrungs-umschau.de/…/EU01_2018_Special_invitro_englisch.pdf (diakses pada tanggal 19 September 2018 pukul 20.00 WIB)

Cassiday, Laura. 2018. Clean Meat. https://www.researchgate.net/publication/322866848 (diakses pada tanggal 19 September 2018 pukul 20.00 WIB)

 

Biro Media Informasi © 2018

Tinggalkan Komentar

Translate »