Penulis: Biro Sapi Perah Cattle Buffalo Club

Foto oleh: Dokumentasi Internal Biro Sapi Perah Cattle Buffalo Club

Dago Dairy Farm merupakan sebuah peternakan yang berada di daerah Buniwangi Wetan, Desa Mekarwangi, Lembang. Lokasinya meskipun terletak di daerah perkotaan, namun cukup jauh dari pemukiman, sehingga dapat ditempuh menggunakan mobil dan dilanjutkan dengan berjalan kaki ataupun menggunakan kendaraan roda dua dengan jarak perjalanan ±200 meter. Kondisi jalan menuju farm menanjak dan berbatu, namun enak untuk dinikmati sebab letaknya yang berada di dataran tinggi. Kami berenam perwakilan Biro Sapi Perah Cattle Buffalo Club (CBC) disambut dan ditemani langsung oleh pemilik farm, Mark sore itu. Kami berkunjung tepat sehari setelah pelaksanaan event  Hari Susu Nusantara 2018 yang dilaksanakan pada 1 Juni 2018 lalu. Mark merupakan Warga Negara Asing (WNA) asal Australia. Bersama keluarga kecilnya, Ia mengelola peternakannya secara mandiri. Hal ini merupakan ketertarikan sendiri untuk berkunjung menemui sesama peternak, bedanya peternak ini berbahasa lain dari kita.

Dago Dairy Farm memiliki luas lahan ±2 hektar, lahan tersebut digunakan untuk kandang sapi perah, kandang ayam petelur, tempat pengolahan susu dan sisanya untuk lahan tanaman. Populasi sapi perahnya terdapat 25 ekor, terdiri dari 15 ekor sapi laktasi dan 10 ekor pedet dan dara. Sapi yang sedang laktasi diperah sebanyak 2 kali saat pagi dan sore hari. Setiap ekor sapi menghasilkan susu rata-rata 13 liter/hari. Susu yang dihasilkan lalu diolah dan dikemas menjadi yoghurt dan susu murni langsung di farmnya. Mark memasarkan produknya ke horeka (hotel, rumah sakit, dan kafe) di sekitar Bandung. Mark pun sering memasarkan produknya pada event-event peternakan.

 

Peternakan ini berdiri selama belasan tahun. Melalui usaha ini, Mark dan keluarganya dapat menikmati hasil dari usahanya sendiri. Selain yoghurt dan susu murni, Mark juga menjual telur telur ayam yang ia pelihara. Pemeliharaan ayam di sini cukup menarik. Ayam dibiarkan berkeliaran di lahan pertaniannya, saat sore menjelang, ayam tersebut akan masuk ke dalam kandangnya tanpa panduan. Hasil yang didapat dari kedua produk memang belum banyak, apalagi Ia harus menggaji 2-3 orang karyawannya  yang bertugas dalam pemeliharaan dan mengolah susu. Ketika kami mengelilingi area kandang, Mark bercerita mengenai kesulitannya selama beternak. Setiap malam hewan liar merusak tanaman jagung yang ditanam olehnya, Mark pun mengalami kesulitan dalam menanam tanaman alternatif lain untuk pakan, sebab harga bibit di Indonesia cukup mahal dibanding di Australia. Ia terus menggali solusi atas masalahnya tersebut dengan rajin membuka jurnal.

 

Hari mulai gelap, kami beristirahat diatas kursi panjang yang terbuat dari kayu. Mark menghidangkan yoghurt sebagai takjil berbuka puasa. Kami pulang ditemani citylight kota Bandung yang dapat kami nikmati dari atas sana. Kami pamit pada Mark yang mengantarkan kami bersama anjingnya. Pengalaman cukup unik kali ini, dapat bertemu peternak bule di tanah sunda. Suka dukanya menjadi peternak, dapat memotivasi kami untuk terus menjadi mahasiswa peternakan yang tidak lelah berinovasi untuk peternakan Indonesia.

Biro Medfo © 2018

Tinggalkan Komentar

Translate »