Minat investasi dan bisnis industri susu lokal di Indonesia kian menurun. Implementasi peraturan Inpres Nomor 4 tahun 1998 serta larangan impor sapi pada tahun 2012 telah mengguncang bisnis tersebut.

Padahal terdapat sejumlah industri pengolah susu (IPS) dan importir yang memiliki kemampuan produksi yang besar. Dus, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyediaan dan Peredaran Susu, mewajibkan IPS dan importir untuk menggandeng kemitraan dengan peternak sapi perah lokal pada awal pekan ini.

PT Greenfields Indonesia menjadi salah satu contoh IPS dan importir yang telah mengimplementasikan peraturan tersebut jauh hari.

Heru Prabowo, Head of Farm PT Greenfields Indonesia mengatakan larangan impor sapi yang diterapkan pemerintah pada tahun 2012 membuat minat pada bisnis susu sapi menjadi semakin lesu. “Tahun 2012 terjadi pelarangan impor sapi, sehingga sapi perah dijual jadi sapi daging karena lebih mahal,” jelasnya.

Padahal, dalam data Kementerian Pertanian (Kemtan) tahun 2017, total kebutuhan nasional sebesar 4,4 juta ton setara susu segar, sedangkan produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) hanya mampu memasok 20,74% atau 922,970 ton. Sisanya yang hampir capai 80% berasal dari impor.

Bagi PT Greenfields yang memiliki hingga 10.000 sapi pada peternakan pertama mereka di Malang, perusahaan ini mampu menyediakan 8% dari kebutuhan nasional.
Perusahaan susu asal Indonesia ini mampu memproduksi 115 ton susu sehari sepanjang tahun. 80% produk mereka didistribusikan untuk pasar domestik, sedangkan sisanya untuk ekspor kawasan Asia Tenggara.

Greenfields kini memiliki 180 mitra yang memiliki hingga 1.000 sapi dan kemampuan produksi susu 8 ton sehari. Kemitraan ini, menurut Heru telah dijalin perusahaan jauh hari sebelum kementerian meneken peraturan tersebut.

Syahbantha Sembiring Indonesia Country Head bagian Sales & Marketing PT. AustAsia Food menyatakan, kemitraan Greenfields dengan peternak lokal telah dibangun sejak berdiri di tahun 1997. “Tidak hanya dengan peternak susu lokal, tapi dengan penyedia pakan dan rumput sekitar,” jelasnya.

Skema kemitraan yang dilakukan Greenfields adalah dengan memberikan pelatihan, jasa kesehatan ternak, menawarkan pakan ternak dengan harga diskon serta membeli produk susu yang dihasilkan oleh mitra.

Hasil susu tersebut kemudian dijual oleh Greenfields ke perusahaan IPS lainnya. Menurut Heru, pembeli terbesar produk susu mitra dari Greenfields ini adalah Nestle.

“Kami tidak membeli produk susu mitra karena standar susu kami harus menggunakan susu hasil ternak sendiri. Namun program kemitraan ini sudah kami jalankan sejak lama karena menimbang aspek sosial masyarakat,” kata Heru.

Menurutnya, Greenfields belum berencana untuk menambah jumlah mitra. Tapi, perusahaan yang merupakan bagian dari holding Japfa Pte Ltd yang terdaftar di bursa saham Singapura ini akan meresmikan peternakan Indonesia kedua dalam waktu dekat. Selain di Indonesia, Greenfields juga memiliki 7 peternakan sapi di China yang memproduksi susu segar untuk pasar global.

 

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan  judul “Greenfields Sudah Gandeng 180 Mitra Industri Pengolah Susu”, https://industri.kontan.co.id/news/greenfields-sudah-gandeng-180-mitra-industri-pengolah-susu

Reporter: Tane Hadiyantono
Editor: Herlina Kartika

Tinggalkan Komentar

Translate »